Beras Dunia Memanas Akibat El Nino, Bagaimana Nasib Indonesia?

Emanuel

Harga beras dunia menunjukkan tren kenaikan pada perdagangan Selasa (23/6/2026), mencapai level tertinggi dalam sepekan terakhir di angka US$12,48 per hundredweight (cwt). Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan cuaca di kawasan Asia akibat fenomena El Nino. Sejumlah negara produsen beras utama di Asia Tenggara dilaporkan mulai menghadapi ancaman kondisi yang lebih panas dan kering dalam beberapa bulan mendatang.

Ancaman El Nino ini menambah kekhawatiran di tengah rantai pasok global yang masih dibayangi ketidakpastian dari Timur Tengah. Situasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang belum sepenuhnya normal turut berdampak pada tingginya harga energi dan pupuk. Kondisi ini secara langsung meningkatkan biaya produksi bagi petani, yang kemudian tercermin dalam perhitungan harga beras berjangka di pasar internasional.

Filipina, salah satu negara importir beras terbesar, telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi penurunan produksi gabah hingga 700 ribu ton, atau sekitar 3,5% dari target produksi tahunannya. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dampak yang diperkirakan akan ditimbulkan oleh perubahan pola cuaca.

Meskipun demikian, data menunjukkan bahwa pasokan beras global sebenarnya masih dalam kondisi yang relatif aman. India, sebagai eksportir beras terbesar di dunia, tercatat memiliki stok beras pemerintah yang sangat besar, mencapai 68,43 juta ton per 1 Juni 2026. Jumlah ini naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan jauh melampaui kebutuhan cadangan resmi pemerintah India untuk awal Juli. Stok yang melimpah ini menjadi bantalan penting yang menahan laju kenaikan harga beras di pasar internasional.

Data perdagangan internasional juga mengindikasikan bahwa permintaan global belum menunjukkan lonjakan agresif. Ekspor beras dari Thailand, negara pengekspor beras penting lainnya, tercatat mengalami penurunan sebesar 10,75% pada periode Januari-Mei 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Situasi ini berkontribusi pada harga beras dunia yang secara umum masih tercatat lebih rendah sekitar 8% dibandingkan posisi tahun lalu, meskipun terjadi penguatan dalam beberapa hari terakhir.

Berbeda dengan kekhawatiran global, Indonesia justru tengah menikmati peningkatan pasokan beras domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa produksi beras nasional pada tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton, menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 4 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bahkan menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara untuk musim tanam 2025/2026. Dalam laporan Food Security Snapshot tertanggal 29 Januari 2026, FAO memprediksi prospek produksi padi dan jagung Indonesia pada tahun 2026 cukup baik. Panen padi pertama, yang menyumbang sekitar 55% dari total produksi tahunan, diperkirakan dimulai pada Februari 2026 dengan luas tanam yang melebihi rata-rata lima tahun terakhir.

Faktor pendukung produksi di Indonesia meliputi kondisi cuaca yang relatif kondusif di Pulau Jawa, sentra produksi beras nasional yang menyumbang sekitar separuh total produksi, serta dukungan pemerintah melalui penyediaan pupuk bersubsidi. Kombinasi faktor ini menciptakan optimisme terhadap ketahanan pangan Indonesia.

Meskipun demikian, FAO juga mencatat adanya sejumlah kendala di wilayah Sumatra. Curah hujan yang lebih rendah dari normal pada akhir tahun 2025 sempat menghambat aktivitas penanaman dan pertumbuhan tanaman padi di beberapa daerah. Di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, banjir serta longsor yang terjadi pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 menyebabkan kerusakan lahan, hilangnya stok pangan, serta mengganggu infrastruktur penting seperti jalan dan jembatan.

Secara keseluruhan, FAO melaporkan produksi padi Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar 59 juta ton, angka ini sekitar 9% di atas rata-rata historis. Peningkatan ini didorong oleh perluasan areal tanam dan hasil panen yang optimal berkat kondisi cuaca yang umumnya mendukung. Selain padi, produksi jagung pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 15,3 juta ton, sekitar 5% di atas rata-rata, seiring dengan tingginya permintaan dari industri unggas domestik.

Di sisi perdagangan internasional, FAO memproyeksikan kebutuhan impor gandum Indonesia pada tahun pemasaran 2025/2026 akan mencapai 11,5 juta ton, mendekati rekor tertinggi. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan populasi dan peningkatan konsumsi produk berbasis gandum. Sementara itu, impor jagung diproyeksikan mencapai 1,5 juta ton, didukung oleh kebutuhan industri pakan ternak yang masih kuat.

Terkait stok beras nasional, Indonesia mencatat rekor baru. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog telah menembus angka sekitar 5,2 juta ton. Pemerintah mengklaim angka ini merupakan stok tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan CBP.

Namun, kelimpahan pasokan yang tercatat di tingkat nasional belum sepenuhnya merata dan tercermin pada harga di tingkat konsumen. Berdasarkan data BPS, rata-rata nasional harga beras medium pada pekan ketiga Juni 2026 mencapai Rp14.402 per kilogram, sementara beras premium dijual di kisaran Rp16.230 per kilogram. Angka-angka ini masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah.

Kondisi ini diperparah dengan bertambahnya jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga beras. Dari 110 daerah, kini melonjak menjadi 130 kabupaten dan kota yang melaporkan kenaikan harga beras. Data harian dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan tren kenaikan tipis namun berkelanjutan pada harga beras medium nasional tertimbang, bergerak dari Rp13.809 per kilogram pada 19 Juni menjadi Rp13.818 per kilogram pada 22 Juni. Hal serupa juga terjadi pada beras premium, yang naik dari Rp15.473 menjadi Rp15.475 per kilogram dalam periode yang sama.

Situasi ini menggarisbawahi bahwa isu utama beras di Indonesia saat ini bukanlah pada ketersediaan stok nasional. Produksi yang tinggi, stok Bulog yang melimpah, serta penguatan posisi Indonesia sebagai produsen beras global menunjukkan bahwa tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana menyalurkan pasokan yang melimpah tersebut secara efektif agar berdampak pada stabilitas harga yang lebih baik di tingkat konsumen.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All