JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap menyambut gelombang baru emiten di bulan Juli 2026. Sebanyak enam perusahaan dijadwalkan untuk melakukan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO), menambah semarak pasar modal domestik menjelang akhir semester pertama tahun ini. Kehadiran para pendatang baru ini diharapkan dapat memperkaya pilihan investasi bagi publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Di antara keenam calon emiten tersebut, terdapat nama-nama yang cukup dikenal publik, termasuk PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) yang dimiliki oleh selebritas Raffi Ahmad. Selain RANS, daftar lengkap calon emiten yang akan meramaikan lantai bursa pada bulan Juli 2026 meliputi PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH).
PT Niramas Utama Tbk, yang dikenal dengan kode saham JELI, menargetkan untuk melepas sebanyak 350.000.000 lembar saham. Jumlah ini setara dengan 25,93% dari total modal ditempatkan dan disetor perusahaan. Dengan nilai nominal per saham Rp100, JELI menawarkan sahamnya kepada publik pada kisaran harga Rp900 hingga Rp1.120 per saham. Pencatatan saham perdana JELI dijadwalkan pada 7 Juli 2026.
Menyusul kemudian, PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) berencana menawarkan sebanyak-banyaknya 2,52 miliar saham baru. Jumlah ini merepresentasikan 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. RANS menetapkan rentang harga penawaran di angka Rp135 hingga Rp170 per saham. Perkiraan tanggal pencatatan saham RANS di BEI adalah 10 Juli 2026, menjadikannya salah satu emiten yang paling dinanti.
PT Bach Multi Global Tbk (BACH) juga siap melantai di bursa dengan menawarkan sebanyak 615 juta saham baru. Porsi saham yang ditawarkan ini setara dengan 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. BACH mematok harga penawaran di kisaran Rp400-Rp500 per saham. Jadwal pencatatan saham BACH di Bursa Efek Indonesia juga ditetapkan pada 7 Juli 2026.
Selanjutnya, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) akan melakukan penawaran umum saham perdana dengan melepas 487.983.500 lembar saham biasa. Rinciannya, 325.322.300 saham berasal dari modal ditempatkan dan disetor, sementara 162.661.200 saham merupakan milik DR.Dr. Waldensius Girsang. Secara keseluruhan, saham yang ditawarkan mewakili 15% dari modal ditempatkan dan disetor dengan nilai nominal Rp16 per saham. JECX menetapkan harga penawaran kepada masyarakat pada rentang Rp1.200 hingga Rp1.400 per saham, dengan tanggal pencatatan pada 7 Juli 2026.
Perusahaan di sektor kesehatan, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), juga tidak ketinggalan. EMMI menawarkan sebanyak-banyaknya 522,86 juta saham baru, yang mencakup maksimal 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO. EMMI mematok harga saham perdana di kisaran Rp446 hingga Rp515 per saham. Pencatatan saham EMMI di BEI dijadwalkan pada 8 Juli 2026.
Terakhir dalam daftar ini adalah PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), yang akan menawarkan sebanyak-banyaknya 522,9 juta saham baru. Jumlah ini setara dengan 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. PRDL menetapkan kisaran harga penawaran sahamnya di Rp100-Rp120 per saham. PRDL dijadwalkan untuk mencatatkan sahamnya di BEI pada 9 Juli 2026.
Menyambut antusiasme para calon emiten ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap optimis terhadap pencapaian target jumlah perusahaan yang melantai di pasar modal pada tahun 2026. BEI menargetkan sebanyak 50 emiten baru di tahun ini, angka yang hampir dua kali lipat dari realisasi tahun sebelumnya yang hanya mencapai 26 emiten.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa hingga saat ini, target tersebut masih sesuai jalur. Ia menambahkan bahwa jika ada perubahan, pihaknya akan segera mengumumkannya. Keputusan untuk melakukan IPO merupakan langkah strategis yang diambil oleh masing-masing perusahaan, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk dinamika dan kondisi pasar saat ini.
"Nah tentu dalam kondisi pasar seperti ini ya mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tambahan apakah bisa mendapatkan pricing yang optimal, ya apakah apa nanti IPO-nya bisa terserap dengan baik oleh pasar atau tidak. Itu kan tentu menjadi pertimbangan dari calon perusahaan tercatat dan penjamin emisinya ya," jelas Jeffrey.
Meskipun demikian, Jeffrey menegaskan bahwa proses rencana calon emiten tetap berjalan sesuai rencana. Ia berharap akan ada lebih banyak lagi IPO baru yang dapat terealisasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut, Jeffrey menekankan komitmen BEI untuk selalu mengutamakan kualitas emiten di atas kuantitas. Prioritas ini penting demi menjaga keberlangsungan dan kesehatan pasar modal Indonesia. "Tentu kita kita kan sudah sama-sama sepakat bahwa kita akan mengutamakan kualitas daripada kuantitas ya. Saya kira kesepakatan itu masih berlaku dan masih sama seperti itu," tegasnya. Pendekatan ini diharapkan dapat menarik investor yang tepat dan memastikan setiap emiten yang terdaftar memiliki fundamental yang kuat dan prospek bisnis yang berkelanjutan.











