Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah serius mempersiapkan ajang nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 di seluruh wilayahnya. Inisiatif ini bukan sekadar memfasilitasi euforia sepak bola, melainkan juga dirancang sebagai strategi jitu untuk menggairahkan ekonomi kerakyatan, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pelaku usaha lokal. Langkah ini menegaskan komitmen Pemkab agar gelaran akbar sepak bola dunia dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat tanpa terkendala jarak geografis.
Tak hanya terpusat di ibu kota kabupaten, Koba, Pemkab Bangka Tengah berupaya merata panggung hiburan ini hingga ke pelosok kecamatan. Tujuannya jelas, agar seluruh warga Bangka Tengah, termasuk yang berada di daerah terpencil, dapat merasakan atmosfer ketegangan dan kegembiraan pertandingan sepak bola terbesar sejagat raya. Jarak yang selama ini kerap menjadi hambatan, kini coba diatasi dengan penyediaan fasilitas yang memadai di setiap wilayah administrasi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, berbagai fasilitas umum mulai dipetakan. Lapangan terbuka, gedung pertemuan serbaguna, hingga ruang publik di tingkat kecamatan menjadi prioritas utama dalam penentuan lokasi nobar. Kriteria aksesibilitas menjadi parameter krusial dalam seleksi. Pemkab tidak main-main dalam hal teknis, layar lebar berkualitas tinggi, sistem pengeras suara yang mumpuni, hingga pasokan listrik cadangan dipastikan siap demi kelancaran acara tanpa gangguan teknis.
Enam kecamatan di Bangka Tengah diproyeksikan akan menjadi sentra penyelenggaraan nobar Piala Dunia 2026. Sekretaris Daerah Bangka Tengah, Ahmad Syarifullah Nizam, menegaskan bahwa seluruh persiapan dilakukan secara terstruktur dan terkoordinasi. "Kami memusatkan titik-titik nobar di lokasi yang mudah diakses masyarakat luas. Lapangan terbuka dan gedung pertemuan di tiap kecamatan akan dioptimalkan," ujar Syarifullah di Koba, baru-baru ini.
Strategi penyebaran titik nobar ini dinilai sangat efektif. Dengan demikian, konsentrasi massa dapat tersebar merata, memudahkan pengendalian keamanan oleh aparat gabungan, serta meminimalkan risiko kemacetan lalu lintas yang parah. Pendekatan ini juga sangat krusial dari sudut pandang manajemen kerumunan, memastikan keamanan dan ketertiban acara dapat terjaga optimal.
Rencana awal sebaran wilayah koordinasi Pemkab Bangka Tengah dalam menyiapkan lokasi strategis nobar Piala Dunia 2026 mencakup enam kecamatan. Di Kecamatan Koba, alun-alun dan gedung serbaguna akan dioptimalkan dengan fokus mendukung pusat UMKM dan komunitas. Sementara itu, di Pangkalan Baru, lapangan terbuka di ruang publik menjadi pilihan dengan mempertimbangkan akses perbatasan kota.
Untuk Sungai Selan, gedung pertemuan warga akan dimanfaatkan untuk mengintegrasikan pemuda lokal. Simpang Katis akan menjadikan lapangan olahraga desa sebagai lokasi utama, sekaligus memberdayakan warung-warung kecil di sekitarnya. Di Namang, kawasan sentra komunitas akan difokuskan untuk memastikan keamanan lintas sektor. Terakhir, di Lubuk Besar, gedung pertemuan dan lapangan akan menjadi pusat hiburan bagi masyarakat pesisir.
Potensi sepak bola sebagai magnet massa yang kuat di Indonesia dimanfaatkan secara maksimal oleh Pemkab Bangka Tengah untuk memutar roda perekonomian dari sektor akar rumput. Turnamen sekelas Piala Dunia memiliki efek domino ekonomi yang masif, dan Pemkab bertekad mengelolanya dengan cermat. Pelaku UMKM akan mendapatkan ruang khusus di sekitar area nobar. Mereka akan diizinkan menjajakan produk kuliner, minuman, hingga pernak-pernik bertema sepak bola selama pertandingan berlangsung.
Ini menjadi panggung emas bagi pedagang kaki lima, penjual kopi keliling, hingga pengrajin kaus olahraga lokal untuk meningkatkan omzet secara signifikan. Kolaborasi ini juga merangkul berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan, komunitas kepemudaan, dan lembaga pendidikan di tingkat kecamatan. Kehadiran mereka krusial dalam menjaga ketertiban dan kelancaran acara. Pemuda setempat akan diberdayakan sebagai panitia teknis, petugas parkir resmi, hingga tim kebersihan pasca-acara.
"Keterlibatan berbagai unsur ini kami harapkan memberi dampak instan bagi ekonomi lokal, khususnya pedagang kecil yang berjualan di sekitar lokasi nobar," tambah Syarifullah. Perputaran uang selama satu bulan penuh gelaran turnamen diproyeksikan mampu mendongkrak daya beli masyarakat Bangka Tengah secara signifikan, menciptakan geliat ekonomi yang terasa hingga ke tingkat rumah tangga.
Aspek keamanan menjadi prioritas tak kalah penting dalam penyelenggaraan nobar ini. Skema pengamanan ketat telah disiapkan dengan melibatkan perangkat daerah terkait. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan, serta jajaran kepolisian sektor setempat akan berjaga di perimeter luar setiap titik nobar untuk memastikan situasi tetap kondusif. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menekan potensi gesekan antarpendukung tim nasional yang berlaga.
Evaluasi berkala akan terus dilakukan seiring mendekatnya jadwal dimulainya turnamen akbar tersebut. Dengan persiapan yang matang dan menyentuh berbagai aspek, mulai dari sosial, ekonomi, hingga keamanan, Bangka Tengah optimis siap menyambut demam sepak bola dunia dengan penuh kemeriahan yang aman dan terkendali. Gelaran ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum kebangkitan ekonomi lokal pasca-pandemi.











