Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, memicu kekhawatiran baru di pasar global. Kali ini, Iran mengancam akan menutup jalur pelayaran strategis yang bukan Selat Hormuz.
Ancaman tersebut diarahkan pada Selat Bab el-Mandeb, sebuah selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Dukungan Iran terhadap kelompok Houthi di Yaman menjadi kunci potensi penutupan jalur vital ini.
Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Sekitar 10% perdagangan maritim global melewati selat ini setiap harinya.
Jika selat ini ditutup, dampaknya akan sangat signifikan bagi perdagangan internasional. Kapal-kapal tanker minyak yang menuju Eropa dan Amerika Utara dari Timur Tengah harus mencari rute alternatif yang jauh lebih panjang dan mahal.
Kondisi ini diprediksi akan memicu lonjakan harga minyak dunia secara drastis. Analis memperkirakan harga minyak bisa ‘meledak’ jika ancaman Iran benar-benar terealisasi.
Amerika Serikat dan sekutunya terus memantau situasi dengan seksama. Mereka berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat mengganggu stabilitas regional dan global.
Sebelumnya, Iran telah beberapa kali mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS. Namun, ancaman terhadap Bab el-Mandeb ini membuka dimensi baru dalam konflik tersebut.
Para ahli keamanan maritim mengingatkan bahwa penutupan Bab el-Mandeb akan menimbulkan krisis kemanusiaan dan ekonomi yang parah bagi negara-negara di kawasan Afrika.
Pemerintah negara-negara pengguna jalur ini mulai mengambil langkah antisipasi. Mereka sedang mengkaji opsi untuk mengamankan rute pelayaran atau mencari alternatif pasokan energi.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok global terhadap gejolak politik di Timur Tengah. Peran strategis selat-selat sempit seperti Bab el-Mandeb semakin terasa penting.
Dunia kini menanti bagaimana perkembangan selanjutnya dari ketegangan ini dan potensi dampaknya terhadap ekonomi global, terutama harga komoditas energi.
