Kehidupan di bawah keindahan pegunungan yang diselimuti salju abadi ternyata tidak lepas dari ancaman bahaya. Fenomena alam unik yang berpotensi menimbulkan tsunami dari ketinggian ini menjadi sorotan, mengingatkan akan risiko yang tersembunyi di balik pemandangan spektakuler.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience pada Senin (11/3/2024) mengungkap potensi tsunami yang berasal dari runtuhan gletser. Penelitian ini menyoroti insiden pada 11 Januari 2023 di Tiongkok, di mana longsoran salju dan es dari gletser di Pegunungan Himalaya memicu gelombang dahsyat yang merusak.
Peristiwa di Tiongkok tersebut bukanlah kejadian terisolasi. Para ilmuwan mengidentifikasi bahwa fenomena ini, yang disebut sebagai ‘tsunami gletser’, telah terjadi beberapa kali di berbagai belahan dunia, termasuk di Nepal dan India. Salah satu insiden paling dramatis terjadi di Danau Ronti, Nepal, pada 4 Desember 1977, yang menyebabkan tsunami setinggi 7 meter dan merusak pemukiman di hilir.
Dr. Ming Li dari Institute of Mountain Hazards and Environment Chinese Academy of Sciences, salah satu peneliti utama dalam studi ini, menjelaskan, “Kami menemukan bahwa runtuhan gletser yang masif dapat memicu gelombang tsunami yang tinggi, bahkan dari ketinggian ribuan meter.” Ia menambahkan bahwa fenomena ini dapat terjadi ketika sejumlah besar es dan salju runtuh ke dalam danau glasial atau lembah yang curam.
Studi ini menganalisis data dari berbagai insiden serupa di seluruh dunia, menggunakan kombinasi citra satelit, data seismik, dan pemodelan komputer. Hasilnya menunjukkan bahwa tsunami gletser dapat memicu gelombang yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya, dengan ketinggian yang berpotensi mencapai puluhan meter. “Tsunami ini dapat bergerak dengan kecepatan tinggi dan menempuh jarak yang cukup jauh, menimbulkan ancaman serius bagi komunitas yang berada di daerah aliran sungai di bawahnya,” ujar Dr. Li.
Para peneliti menekankan pentingnya pemantauan yang lebih ketat terhadap gletser yang berpotensi longsor, terutama yang berada di atas danau glasial. Identifikasi dini terhadap gletser yang tidak stabil dan pengembangan sistem peringatan dini yang efektif menjadi krusial untuk mitigasi risiko. “Pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme pembentukan tsunami gletser dan pemantauan berkelanjutan adalah kunci untuk mengurangi dampak bencana di masa depan,” pungkas Dr. Li.
