Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tinggi bagi kendaraan yang diimpor dari Kanada. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi raksasa otomotif asal Jepang, Toyota dan Honda, yang berpotensi terpaksa menutup sebagian lini produksi mereka di Amerika Utara.
Ancaman tarif tersebut muncul di tengah upaya Trump untuk merevisi perjanjian dagang Amerika Utara, North American Free Trade Agreement (NAFTA). Dalam pembicaraan yang alot, Trump kerap menyuarakan ketidakpuasannya terhadap defisit perdagangan AS dengan negara-negara mitra NAFTA, termasuk Kanada dan Meksiko. Salah satu sektor yang menjadi sorotan adalah industri otomotif, di mana Trump berargumen bahwa banyak komponen dan kendaraan diproduksi di luar AS namun dijual di pasar Amerika dengan keuntungan yang besar bagi negara lain.
Jika tarif yang diusulkan benar-benar diterapkan, hal ini akan secara signifikan meningkatkan biaya produksi bagi Toyota dan Honda. Perusahaan-perusahaan ini memiliki jaringan manufaktur yang luas di Amerika Serikat dan Kanada, dengan sebagian besar komponen dan kendaraan yang diproduksi di Amerika Utara kemudian diekspor ke pasar Amerika Serikat. Kenaikan biaya impor akibat tarif baru akan membuat harga jual mobil menjadi tidak kompetitif, memaksa perusahaan untuk melakukan penyesuaian drastis.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis sebelumnya, Toyota menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan pemerintah AS dan mitra internasional untuk meminimalkan dampak negatif dari kebijakan perdagangan yang berubah. “Kami terus mengevaluasi implikasi dari setiap perubahan kebijakan potensial terhadap operasi kami,” ujar seorang juru bicara Toyota. Pernyataan serupa juga datang dari Honda, yang menekankan komitmen mereka terhadap pasar Amerika Utara namun tetap waspada terhadap perkembangan kebijakan.
Para analis industri memperkirakan, jika tarif diberlakukan, perusahaan otomotif seperti Toyota dan Honda mungkin terpaksa mengurangi skala operasi mereka di Amerika Serikat. Penutupan lini produksi tertentu, pengurangan jam kerja karyawan, atau bahkan relokasi produksi ke negara-negara dengan biaya lebih rendah bisa menjadi pilihan yang terpaksa diambil. Hal ini tentu akan berdampak luas pada rantai pasok otomotif dan lapangan kerja di sektor manufaktur Amerika Utara.
