Perusahaan-perusahaan Jepang secara agresif meningkatkan investasi mereka di India. Langkah ini diambil sebagai respons strategis terhadap tantangan ganda: menyusutnya pasar domestik Jepang dan meningkatnya risiko geopolitik serta ekonomi di Tiongkok.
Keputusan ini mencerminkan pergeseran lanskap investasi global, di mana India muncul sebagai destinasi yang semakin menarik bagi modal asing. Peningkatan fokus pada India ini bukan tanpa alasan. Pasar India yang besar dan berkembang pesat menawarkan potensi pertumbuhan yang signifikan, sementara diversifikasi dari Tiongkok menjadi prioritas bagi banyak korporasi Jepang.
Salah satu pendorong utama di balik tren ini adalah kekhawatiran yang semakin besar mengenai stabilitas ekonomi dan politik di Tiongkok. Ketegangan perdagangan, kebijakan domestik yang berubah-ubah, dan tantangan rantai pasok global telah membuat perusahaan-perusahaan Jepang mencari alternatif yang lebih aman dan stabil. India, dengan pertumbuhan ekonominya yang kuat dan pasar konsumen yang luas, menawarkan peluang yang menarik untuk ekspansi.
Presiden Dewan Bisnis Jepang-India (JIBC), Hiroshi Nakaso, menyoroti pentingnya kolaborasi ini. Ia menyatakan, “Kami melihat potensi besar dalam kemitraan dengan India.” Nakaso menambahkan bahwa JIBC bertekad untuk “meningkatkan investasi dan perdagangan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi.” Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen kuat dari sektor bisnis Jepang untuk memperdalam hubungan ekonomi dengan India.
Meskipun pertumbuhan ekonomi global melambat, investasi Jepang di India terus menunjukkan tren positif. Data menunjukkan bahwa pada kuartal pertama 2024, investasi baru dari Jepang ke India mencapai sekitar 188 miliar yen. Angka ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 102 miliar yen. Pertumbuhan sebesar 84% ini menegaskan keyakinan investor Jepang terhadap prospek ekonomi India.
Lebih lanjut, perusahaan-perusahaan Jepang tidak hanya berinvestasi dalam bentuk modal, tetapi juga dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di India. Sebanyak 150 perusahaan Jepang berpartisipasi dalam program pelatihan SDM yang diselenggarakan oleh JIBC. Program ini bertujuan untuk membekali tenaga kerja India dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri Jepang, sekaligus memperkuat hubungan antarkaryawan dan pemahaman budaya.
Presiden JIBC, Hiroshi Nakaso, menekankan pentingnya program ini dalam mempererat hubungan kedua negara. “Melalui program ini, kami berharap dapat membina generasi baru yang akan memperdalam hubungan antara Jepang dan India,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini juga bertujuan untuk “meningkatkan daya saing perusahaan Jepang di India.”
Upaya ini sejalan dengan dorongan pemerintah Jepang untuk diversifikasi investasi di luar Tiongkok. Kebijakan ini didorong oleh keinginan untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara dan membangun rantai pasok yang lebih tangguh. India, dengan infrastruktur yang terus berkembang dan pasar yang dinamis, dipandang sebagai mitra strategis yang ideal untuk mencapai tujuan ini.
