Pemilik kucing seringkali dihadapkan pada tantangan untuk menghentikan kebiasaan hewan peliharaan kesayangannya mencakar berbagai perabotan rumah tangga, mulai dari sofa, karpet, hingga lemari. Perilaku ini memang umum terjadi, namun dapat menimbulkan kerusakan dan kekhawatiran bagi pemilik.
Menurut Dokter Hewan dari Royal Veterinary College, Dr. Sarah Ellis, mencakar merupakan perilaku naluriah bagi kucing. “Kucing mencakar untuk merawat cakar mereka, menandai wilayah, dan untuk peregangan,” jelas Dr. Ellis.
Untuk mengalihkan kebiasaan mencakar ke tempat yang tepat, pemilik disarankan menyediakan berbagai macam alat penggaruk. Alat penggaruk ini sebaiknya memiliki tekstur, bentuk, dan ukuran yang bervariasi, seperti tiang penggaruk vertikal, papan penggaruk horizontal, atau bahkan jenis penggaruk yang terbuat dari bahan kardus. Penempatan alat penggaruk ini juga krusial. Idealnya, letakkan di dekat area favorit kucing dan di tempat-tempat yang sering mereka jadikan sasaran cakaran.
Selain menyediakan sarana penggaruk, pemilik juga dapat mencoba menggunakan produk yang mengandung catnip atau feromon kucing. Aroma catnip diketahui dapat menarik perhatian kucing dan membuat mereka lebih tertarik untuk menggunakan alat penggaruk. Sementara itu, feromon sintetis yang meniru feromon alami kucing dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih tenang dan mengurangi stres, yang terkadang menjadi pemicu perilaku mencakar.
Teknik penguatan positif juga memegang peranan penting. Pemilik dapat memberikan pujian, belaian, atau bahkan camilan kecil setiap kali kucing menggunakan alat penggaruk yang telah disediakan. Hal ini akan membantu kucing mengasosiasikan penggunaan alat penggaruk dengan pengalaman yang menyenangkan. Sebaliknya, hindari hukuman fisik atau suara keras saat kucing mencakar perabotan yang tidak diinginkan, karena hal tersebut justru dapat menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada kucing, serta memperburuk masalah.
Jika masalah mencakar terus berlanjut dan menimbulkan kekhawatiran yang signifikan, berkonsultasi dengan dokter hewan atau ahli perilaku hewan dapat menjadi solusi. Mereka dapat membantu mengidentifikasi akar penyebab perilaku tersebut, apakah ada masalah medis atau psikologis yang mendasarinya, dan memberikan rekomendasi penanganan yang lebih spesifik.
