Jakarta – Jagat hiburan Indonesia kembali diramaikan dengan kabar menarik dari dunia perfilman, khususnya genre horor. Film "402 Rumah Sakit Angker Korea", yang disutradarai oleh Anggy Umbara dan merupakan adaptasi dari film horor Korea Selatan yang populer, "Gonjiam: Haunted Asylum", dijadwalkan akan tayang di bioskop Tanah Air pada 9 Juli 2026. Proyek sinema ini menjadi sorotan utama, bukan hanya karena genre dan adaptasinya, melainkan juga karena menandai debut akting YouTuber kenamaan, Jang Hansol, yang dikenal luas melalui kanal YouTube Korea Reomit.
Dalam film bergaya found footage ini, Jang Hansol akan memerankan karakter Daeho, seorang penduduk Korea yang terlibat dalam penelusuran di sebuah rumah sakit angker bersama tim kreator konten dari Indonesia. Perannya sebagai Daeho sangat selaras dengan persona Hansol di dunia maya, di mana ia sering berbagi cerita dan informasi seputar Korea dengan sentuhan budaya Indonesia yang kental, khususnya logat Jawa yang menjadi ciri khasnya. Proses syuting film ini pun sepenuhnya dilakukan di Negeri Ginseng, menambah otentisitas latar cerita.
Penulis naskah "402 Rumah Sakit Angker Korea", Lele Laila, mengungkapkan alasan spesifik di balik pemilihan Jang Hansol untuk proyek ini. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Lele menuturkan bahwa mencari sosok Korea yang fasih berbahasa Indonesia bukanlah hal mudah. Ia sendiri merupakan salah satu penonton setia kanal YouTube Hansol, yang sering membahas tema-tema mistis. Ketertarikan Lele pada riset rumah sakit angker di Korea, termasuk sejarah dan entitas gaibnya, membawanya menemukan kanal Hansol yang relevan, sehingga menjadikannya pilihan ideal untuk peran tersebut.
Keputusan untuk menggandeng Jang Hansol terbukti tepat, mengingat performa debutnya di layar lebar ini mendapatkan apresiasi tinggi. Lele Laila menyatakan kepuasannya, "Alhamdulillah Hansol langsung oke." Pujian senada juga datang dari rekan-rekan sesama pemain film. Saputra Kori, yang memerankan karakter Adit, mengamini bahwa debut Hansol terasa sangat sinkron dengan konten yang biasa ia sajikan di YouTube.
Kori menjelaskan bahwa dalam film, Hansol berperan sebagai "tour guide" bagi tim kreator konten Indonesia, yang sebelumnya telah melakukan penelusuran di rumah sakit tersebut. "Ini debut pertamanya dia. Tapi jadi sinkron karena kontennya Hansol di YouTube sendiri me-review hal-hal seperti itu. Di sini pun tugasnya sama, ya. Dia jadi tour guide-nya kita. Dia duluan nge-review rumah sakit itu, baru mengajak kita," ungkap Saputra Kori. Ia juga menambahkan bahwa gaya akting Hansol sangat otentik dan "Jawa-nya enggak hilang," sebuah komentar yang menunjukkan bagaimana Hansol berhasil membawa identitas uniknya ke dalam karakter Daeho.
Film "402 Rumah Sakit Angker Korea" mengisahkan perjalanan lima kreator konten asal Indonesia – Juna (diperankan Arbani Yasiz), Adit (Saputra Kori), Bara (Elang El Gibran), Arum (Diandra Agatha), dan Yuri (Lea Ciarachel) – yang terbang ke Korea Selatan. Misi mereka adalah melakukan penelusuran di sebuah rumah sakit tua yang sudah lama terbengkalai, dengan tujuan mulia untuk mencapai tiga juta penonton dalam siaran langsung mereka demi keuntungan finansial. Di sana, mereka bertemu dengan Tyas (Aylena Fusil), seorang mahasiswa asal Indonesia, dan Daeho (Jang Hansol), yang memiliki ketertarikan mendalam pada kisah-kisah horor. Namun, ekspedisi mereka berubah menjadi mencekam ketika serangkaian kejadian mengerikan mulai menghantui mereka.
Lele Laila juga memberikan klarifikasi mengenai pertanyaan yang kerap muncul, yaitu mengapa adaptasi film "Gonjiam" versi Indonesia ini tetap berlatar di Korea Selatan, bukan di Indonesia. Menurutnya, keputusan ini diambil untuk mempertahankan esensi dan "rasa Gonjiam" yang sudah dikenal luas oleh penggemar horor. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman yang familier namun tetap segar bagi penonton Indonesia.
Sebelum resmi tayang di bioskop Tanah Air, "402 Rumah Sakit Angker Korea" mendapatkan kehormatan untuk diputar di Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN). BIFAN adalah salah satu festival film genre terbesar di Korea Selatan dan Asia, yang secara khusus menyoroti film-film horor, fiksi ilmiah, fantasi, dan thriller. Pemilihan film ini untuk BIFAN menjadi indikasi kuat akan kualitas dan daya tarik internasionalnya, sekaligus menjadi ajang promosi yang signifikan bagi perfilman horor Indonesia di kancah global. Kehadiran Jang Hansol, seorang ikon digital dengan basis penggemar yang masif, diyakini akan semakin meningkatkan antusiasme penonton, baik di dalam maupun luar negeri, terhadap film horor adaptasi yang menjanjikan ketegangan ini.











