CILANDAK, JAKARTA SELATAN – Lebih dari sepekan sudah, Wiliam Tingting, calon manajer Koperasi Desa Merah Putih, merasakan kerasnya kehidupan semi-militer di Brigade Infanteri 1 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan. Sejak memasuki barak pada 14 Juni 2026, mantan pegawai perusahaan swasta di Jakarta ini mengaku terus beradaptasi dengan ritme rutinitas yang jauh berbeda dari kesehariannya sebelumnya. Pelatihan ini adalah bagian dari program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang bertujuan mencetak pemimpin tangguh untuk koperasi di berbagai daerah.
Hari-hari Wiliam kini dimulai jauh lebih dini, sekitar pukul 03.30 WIB. Setelah bangun, para peserta segera membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk sesi olahraga pagi di lapangan yang berlangsung hingga sekitar pukul 05.30 WIB. "Kami bersih-bersih mempersiapkan diri untuk olahraga di lapangan sampai sekitar pukul setengah enam pagi," ujar Wiliam ketika ditemui di sela kelas Pendidikan dan Latihan Dasar Militer pada Kamis siang, 25 Juni 2026.
Usai menguras energi di pagi hari, rutinitas Wiliam dan rekan-rekannya berlanjut dengan kegiatan bersih-bersih, sarapan, apel pagi, dan pelatihan peraturan baris-berbaris (PBB). Setelah serangkaian aktivitas fisik tersebut, mereka bergegas memasuki kelas pengasuhan yang dimulai tepat pukul 08.30 WIB. Materi yang diajarkan selama kelas ini mencakup berbagai dasar kemiliteran, seperti ilmu medan dan cara membaca peta, yang sangat relevan untuk membangun keterampilan kepemimpinan dan strategi.
Aktivitas pembelajaran berlangsung intensif hingga malam hari, seringkali baru berakhir paling lambat pukul 22.00 WIB. Disiplin ketat ala militer terasa kental dalam setiap sesi. Pada kunjungan pukul 10.00 WIB di hari yang sama, para peserta SPPI terlihat fokus mengikuti pelajaran ilmu medan dan membaca peta. Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa pelatihan diawali di dalam ruangan, sebuah aula besar yang disulap menjadi kelas kuliah.
Ruangan tersebut dipenuhi peserta yang mengenakan seragam loreng ala tentara, duduk rapi di kursi bermeja lipat. Di depan kelas, seorang perwira Marinir berpangkat mayor menyampaikan materi dengan suara lantang dan tegas, tanpa bantuan pengeras suara. Suasana pembelajaran sangat disiplin, dengan instruktur yang sesekali meminta peserta menjawab pertanyaan secara individu. "Saya tidak suka ramai-ramai, jawab!" ujarnya sambil menunjuk salah seorang peserta untuk memberikan jawaban, menanamkan sikap cepat tanggap dan tanggung jawab.
Setelah sekitar 15 menit di dalam kelas, para peserta kemudian digiring ke lapangan untuk mempraktikkan materi tentang peta yang baru saja disampaikan. Transisi dari teori ke praktik ini dirancang untuk memastikan pemahaman mendalam dan aplikasi langsung dari ilmu yang didapat. Total 670 calon manajer digembleng di Brigade Infanteri 1 Marinir, dibagi ke dalam empat kompi, masing-masing beranggotakan sekitar 196 orang. Di sela-sela pelatihan, untuk membangun kekompakan dan semangat, para peserta seringkali berkeliling lapangan sambil menyanyikan yel-yel bersama-sama. "Komando di darat, laut, udara, jaya," teriak mereka berulang kali, menciptakan atmosfer kebersamaan yang kuat.
Menjelang tengah hari, aktivitas pelatihan dihentikan sementara. Peserta muslim melaksanakan salat berjamaah sebelum menikmati makan siang bersama. Namun, sebelum memasuki ruang makan, mereka terlebih dahulu mengikuti apel makan siang dan kembali menyanyikan yel-yel. Momen makan siang ini menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Wiliam. Ia menuturkan, "Makan itu kami harus teratur sesuai barisnya, dan waktunya juga terbatas." Aturan ketat ini, menurutnya, memberikan pengalaman baru dan membentuk kedisiplinan yang tinggi.
Meski demikian, Wiliam tidak menampik bahwa jadwal yang padat dan intensif cukup menguras tenaga. Ia mengakui, beberapa peserta mulai mengalami kelelahan karena belum terbiasa dengan aktivitas fisik yang intensif. "Ada yang kelelahan, capek, dan sakit," katanya. Namun, Wiliam juga mengapresiasi penanganan kesehatan yang sigap dari pihak Marinir. "Penanganan kesehatan di Marinir cukup tanggap dan selalu memperhatikan setiap peserta," tambahnya, menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan para calon manajer.
Komandan Batalyon Latihan SPPI Brigif 1 Marinir, Letnan Kolonel Marinir Agus Mutaqin, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang secara khusus untuk membentuk karakter para calon pengelola koperasi sebelum mereka terjun langsung menjalankan tugas di lapangan. Setiap aktivitas disusun secara ketat dengan tujuan utama menanamkan nilai-nilai disiplin, kekompakan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Nilai-nilai ini dianggap krusial bagi keberhasilan pengelolaan koperasi di berbagai pelosok desa.
Dalam pelaksanaannya, satuan pendidikan juga menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil. Peserta yang menunjukkan prestasi atau kinerja baik akan mendapatkan penghargaan, sementara pelanggaran tertentu akan dikenai hukuman pembinaan. Bentuk hukuman yang diberikan bersifat pembinaan fisik ringan, seperti push-up bagi peserta yang terlambat mengikuti jadwal kegiatan. "Hukuman yang diberikan sifatnya pembinaan agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama," tegas Letkol Agus.
Setelah menyelesaikan materi dasar selama dua pekan pertama, Letkol Agus melanjutkan, peserta dijadwalkan akan mengikuti latihan menembak perorangan pada pekan ketiga. Materi ini menjadi bagian penting dari pembekalan dasar yang diberikan selama Latsarmil. "Jadi mereka punya dasar-dasar militer yang bisa menjadi bekal menuju penugasan berikutnya," ujarnya. Harapannya, dengan bekal disiplin, mental baja, dan sedikit kemampuan dasar militer, 670 calon manajer ini akan menjadi agen perubahan yang tangguh dan profesional, siap memajukan Koperasi Desa Merah Putih dan mendorong pembangunan ekonomi di wilayah penugasan mereka.











