Satelit radar milik China berhasil menangkap citra beresolusi tinggi dari lokasi runtuhnya gletser di Nepal. Pengerahan enam satelit tersebut dilakukan hanya beberapa jam pasca-bencana, memberikan pandangan mendalam terhadap dampak kejadian.
Teknologi radar yang digunakan memungkinkan citra tetap jelas meskipun terhalang oleh awan tebal atau kegelapan, kondisi yang sering terjadi di wilayah pegunungan Himalaya. Citra ini sangat penting untuk analisis ilmiah guna memahami penyebab dan skala runtuhnya gletser tersebut.
Data yang dikumpulkan oleh satelit radar China ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi para ilmuwan dan peneliti. Informasi ini krusial untuk memprediksi potensi bencana serupa di masa depan serta merumuskan strategi mitigasi yang lebih efektif di kawasan yang rentan terhadap perubahan iklim.
Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Kebencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Suratman, M.Sc., menekankan pentingnya pemantauan berbasis satelit dalam memahami fenomena alam ekstrem. “Citra satelit, terutama yang dihasilkan oleh teknologi radar, sangat berharga dalam situasi seperti ini. Kemampuannya menembus kondisi cuaca yang buruk menjadikannya alat yang tak tergantikan untuk pemantauan dan kajian,” ujar Suratman.
Lebih lanjut, Suratman menjelaskan bahwa analisis citra satelit tidak hanya membantu dalam mendokumentasikan kejadian bencana, tetapi juga dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadapnya, seperti perubahan suhu, pola curah hujan, dan pergerakan lapisan es. “Dengan data yang akurat, kita bisa memodelkan risiko dan mengembangkan sistem peringatan dini yang lebih baik,” tambahnya.
Runtuhnya gletser di Nepal ini menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim global yang semakin terasa. Penggunaan teknologi canggih seperti satelit radar menjadi kunci dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap bencana alam yang dipicu oleh isu lingkungan ini.
