Kiprah tim nasional Senegal, yang dijuluki Singa Teranga, di Piala Dunia 2026 kini berada di ujung tanduk. Bukan hanya karena performa di lapangan yang belum memuaskan, melainkan juga akibat serangkaian "komedi kesalahan" dalam manajemen Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) yang baru, baik di dalam maupun luar lapangan. Situasi pelik ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan tim dan manajemennya.
Krisis internal ini berakar pada perubahan kepemimpinan di FSF. Augustin Senghor, presiden paling sukses dalam sejarah FSF yang berhasil mengawal kampanye Piala Dunia di Rusia dan Qatar, secara mengejutkan kehilangan jabatannya dalam pemilihan FSF Agustus lalu. Senghor, seorang pengacara berusia 60 tahun yang juga menjabat sebagai wali kota pulau Gorée, telah memimpin federasi dengan profesionalisme tinggi selama masa kepresidenannya.
"Setelah kalah dalam pemilihan, saya memutuskan untuk tetap diam dan tidak terlalu banyak bicara tentang sepak bola, untuk membiarkan administrasi baru mengambil alih, dengan kerja sama dan dukungan penuh saya," ungkap Senghor kepada The Guardian. Namun, di tengah badai kritik terhadap kepemimpinan FSF yang kini dipegang Abdoulaye Fall, cara kerja Senghor yang profesional kembali menjadi sorotan publik Senegal. Banyak pihak membandingkan masalah yang kini muncul dengan ketertiban selama era kepemimpinannya.
Salah satu insiden paling mencolok adalah permasalahan kontrak dan gaji Pape Thiaw, pelatih kepala tim nasional Senegal. Thiaw dilaporkan tidak memiliki kontrak kerja sejak Februari dan gaji lima bulannya belum dibayarkan. Situasi ini memuncak ketika ia menolak untuk terbang ke Amerika Serikat untuk Piala Dunia, memaksa Presiden Senegal, Bassirou Diomaye Faye, turun tangan.
Senghor, yang dihubungi Thiaw kala itu, menyarankan pelatih untuk fokus pada tugas negara. "Ketika situasi ini terjadi, Pape menelepon saya untuk membicarakannya," kata Senghor. "Saya mengatakan kepadanya bahwa ia harus fokus pada tugas untuk negara kita dan tidak terganggu. Melihat negara kita berprestasi adalah yang lebih penting." Banyak warga Senegal mempertanyakan mengapa begitu banyak masalah dalam manajemen tim, sebuah hal yang dianggap tidak pernah terjadi selama masa kepemimpinan Senghor. Senghor sendiri memilih untuk tetap bungkam hingga peringatan satu tahun kepergiannya dari jabatan presiden FSF, saat ia berjanji akan angkat bicara.
Tepat sebelum kekalahan 3-2 Senegal dari Norwegia pada hari Senin, Thiaw mengumumkan bahwa masalah kontrak dan gajinya telah diselesaikan. Sumber-sumber di kalangan sepak bola Senegal melaporkan bahwa tuntutan gaji sebesar $100.000 per bulan menjadi titik alot yang menyebabkan negosiasi berbulan-bulan dengan pemerintah nasional, yang bertanggung jawab atas pembayaran gaji. Meskipun demikian, Thiaw dengan tegas menyatakan bahwa tuntutan finansialnya bukanlah inti masalah. "Itu tidak pernah menjadi masalah uang, tetapi masalah prinsip dan rasa hormat," ujarnya, mengisyaratkan adanya ketegangan yang lebih dalam setelah final Piala Afrika yang luar biasa di Rabat Januari lalu.
Di lapangan hijau, Senegal menghadapi tugas berat untuk lolos ke babak 32 besar Piala Dunia. Kekalahan beruntun dari Prancis dan Norwegia menandai kali pertama Singa Teranga kalah dua pertandingan berturut-turut di putaran final sejak debut impresif mereka pada tahun 2002. Thiaw kini menghadapi kritik tajam dari dalam negeri dan media Senegal, terutama terkait pemilihan pemain dan strategi manajemen pertandingan menjelang laga grup terakhir melawan Irak pada hari Jumat.
Kondisi fisik beberapa pemain kunci juga menjadi perhatian. Kalidou Koulibaly, bek tengah tangguh yang pernah meraih pujian tinggi selama di Napoli, jelas mengalami masalah kebugaran yang tidak biasa. Ia belum bermain secara kompetitif sejak awal April setelah mengalami cedera otot saat sesi latihan dengan klub Saudi Al-Hilal. Setelah kekalahan dari Norwegia, Koulibaly mengakui bahwa ia gagal memenuhi standar permainannya sendiri. "Setiap bola yang saya sentuh salah," kata Koulibaly dengan jujur. "Saya membuat banyak kesalahan [dan] itu sangat disayangkan, karena kalah dalam pertandingan dengan cara ini adalah aib nyata, terutama di Piala Dunia." Ia menambahkan bahwa level pertandingan di Piala Dunia sangat tinggi, dan kesalahan tidak bisa ditoleransi.
Selain masalah Koulibaly, ada juga kebingungan dan frustrasi atas keengganan Thiaw untuk memanfaatkan talenta muda yang menjanjikan dalam skuadnya. Sebagai contoh, Pape Matar Sarr dari Tottenham seharusnya bisa menggantikan Koulibaly melawan Norwegia. Tidak memainkan pemain berusia 23 tahun ini saat melawan Irak akan dianggap sebagai keputusan yang gegabah oleh banyak pihak.
Bintang utama Senegal selama ini, Sadio Mané, juga tampil kurang berpengaruh di Piala Dunia kali ini, yang kemungkinan besar akan menjadi yang terakhir baginya. Thiaw sangat membutuhkan penyerang berusia 34 tahun itu untuk kembali menemukan ketajaman serangannya saat melawan Irak. Ia memasuki pertandingan krusial itu dengan satu fakta yang jelas: jika Senegal gagal meraih kemenangan dengan selisih gol yang signifikan di Toronto, periode kepemimpinannya sebagai pelatih tim nasional bisa berakhir secara tak terduga, setelah hanya 18 bulan yang penuh gejolak.
Dengan nasib di ujung tanduk dan tekanan yang semakin meningkat, laga terakhir melawan Irak akan menjadi penentu tidak hanya bagi peluang Senegal di Piala Dunia, tetapi juga bagi masa depan manajemen FSF dan pelatih Pape Thiaw. Publik Senegal menanti apakah Singa Teranga mampu bangkit dari badai masalah internal dan meraih hasil yang menyelamatkan muka di turnamen sepak bola paling bergengsi ini.











