Bunyi ‘krek-krek’ saat bergerak dan nyeri pada persendian bisa menjadi pertanda awal osteoartritis. Kondisi degeneratif ini menyerang sendi, menyebabkan rasa tidak nyaman yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Mengenali gejala-gejalanya sejak dini sangat penting untuk melakukan pencegahan dan penanganan yang tepat.
Osteoartritis, yang sering disebut sebagai pengapuran sendi, merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kerusakan tulang rawan pada sendi. Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan antara tulang, dan ketika aus, gesekan antar tulang akan menimbulkan rasa sakit dan kaku.
Menurut dr. Luthfi Nur Rachman, Sp.OT(K) Spine, ada lima gejala utama yang patut diwaspadai. Gejala pertama adalah rasa nyeri pada sendi yang seringkali memburuk seiring aktivitas dan membaik saat istirahat. Nyeri ini bisa terasa ringan pada awalnya, namun dapat berkembang menjadi lebih intens dan persisten.
Selanjutnya, kekakuan sendi menjadi gejala yang tak kalah penting. Kekakuan ini biasanya terasa pada pagi hari setelah bangun tidur atau setelah periode tidak aktif. Namun, kekakuan osteoartritis cenderung berlangsung tidak lebih dari 30 menit, berbeda dengan radang sendi lainnya yang bisa lebih lama.
Bunyi ‘krek-krek’ atau ‘kretek-kretek’ saat sendi digerakkan, yang dikenal sebagai krepitus, juga merupakan indikator umum. Meskipun tidak selalu menyakitkan, bunyi ini menandakan adanya gesekan abnormal pada sendi akibat tulang rawan yang menipis.
Gejala keempat adalah pembengkakan pada area sendi yang terkena. Pembengkakan ini terjadi akibat peradangan yang menyertai kerusakan tulang rawan. Terakhir, penurunan rentang gerak sendi menjadi gejala yang perlu diperhatikan. Pengidap osteoartritis mungkin akan kesulitan untuk menekuk atau meluruskan sendi sepenuhnya.
dr. Luthfi menekankan pentingnya deteksi dini. “Jika ada keluhan sering nyeri dan bunyi-bunyi di sendi, segera konsultasikan ke dokter spesialis ortopedi,” ujarnya. Dengan diagnosis yang tepat, penanganan osteoartritis dapat dimulai lebih awal, meliputi modifikasi gaya hidup, fisioterapi, hingga opsi pengobatan lainnya untuk mengelola gejala dan memperlambat perkembangan penyakit.
