Pembalap muda sensasional MotoGP, Pedro Acosta, tidak menutupi kekecewaannya terhadap masalah reliabilitas yang terus-menerus mendera motor KTM-nya. Setelah akhir pekan penuh drama di Republik Ceko, Acosta menyatakan bahwa ia tidak berharap adanya perbaikan signifikan dari pabrikan Austria tersebut sebelum seri MotoGP Jerman di Sachsenring bulan depan. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers pra-event MotoGP Belanda, menyoroti tekanan yang dialami sang rookie di tengah ambisinya bersaing di papan atas.
Akhir pekan balap di Brno, Ceko, menjadi mimpi buruk bagi Acosta. Ia mengalami berbagai masalah reliabilitas selama tiga hari penuh gelaran tersebut. Puncaknya terjadi pada balapan utama Grand Prix, di mana ia harus mengakhiri lomba lebih cepat karena kerusakan motor di lap terakhir. Insiden tersebut menambah daftar panjang masalah yang dihadapinya, termasuk kegagalan motor saat sesi latihan bebas dan masalah perangkat pengatur ketinggian (ride height device) di balapan Sprint yang turut berkontribusi pada kecelakaannya di tikungan 11. Serangkaian kegagalan ini jelas menghambat potensinya untuk meraih hasil maksimal.
"Akhir pekan yang berat, bahkan bagi kami untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi karena setiap hari saya mengalami masalah yang berbeda," ujar Pedro Acosta, menjelaskan situasi yang ia alami. Pembalap Spanyol ini menambahkan bahwa masalah tersebut berada di luar kendalinya. "Hal-hal ini tidak ada di tangan saya saat ini. KTM harus memahami apa yang terjadi dan segera memberikan solusi, tetapi sepertinya akan cukup sulit sebelum Sachsenring."
Sachsenring, yang akan menjadi tuan rumah MotoGP Jerman pada 10-12 Juli, adalah seri terakhir sebelum jeda musim panas selama empat minggu. Sebelum itu, para pembalap akan menghadapi MotoGP Belanda di Assen pada 26-28 Juni. Acosta berharap paruh kedua musim 2026, yang akan menjadi musim terakhirnya bersama KTM, bebas dari masalah reliabilitas yang kini menjadi ciri khas motor pabrikan Austria itu dalam beberapa balapan terakhir. Keandalan motor menjadi faktor krusial bagi seorang pembalap untuk bisa konsisten meraih poin dan bersaing di kejuaraan.
Dengan kondisi yang ada, Acosta menekankan fokusnya untuk tampil sebaik mungkin dengan paket motor yang tersedia di Assen. "Saat ini, kami harus memahami bagaimana cara tampil terbaik dengan paket yang kami miliki di sini, dan kemudian, setelah jeda musim panas, mari kita lihat di level mana kami berada," tuturnya, menunjukkan pragmatisme di tengah situasi yang menantang. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa harapan perbaikan besar kemungkinan baru akan terwujud setelah jeda panjang tersebut, memberikan waktu bagi tim teknis KTM untuk menganalisis dan mengembangkan solusi yang lebih matang.
Musim ini menjadi krusial bagi Acosta, tidak hanya karena statusnya sebagai rookie yang tampil memukau, tetapi juga karena ia akan segera pindah tim. Musim terakhirnya bersama tim Red Bull KTM Factory Racing akan diikuti oleh debutnya bersama Ducati pada musim berikutnya. Kepindahan ke Ducati Lenovo Team telah dikonfirmasi awal pekan ini, menandai babak baru dalam karier pembalap muda berbakat ini. Di Ducati, Acosta akan berpasangan dengan rekan senegaranya, Marc Marquez, juara dunia sembilan kali.
Menanggapi pertanyaan tentang apa yang bisa ia pelajari dari Marc Marquez sebagai rekan setim barunya tahun depan, Acosta menyoroti pengalaman sang juara dunia. "Saya memikirkan pengalamannya," kata Acosta. "Dia adalah satu-satunya pembalap di grid [saat ini] yang pernah balapan bersama legenda seperti Dani [Pedrosa], seperti Jorge [Lorenzo], seperti Valentino [Rossi], di tahun-tahun awalnya di MotoGP."
Acosta yakin bahwa Marquez telah banyak menyerap pengalaman dari para pembalap legendaris tersebut, dan hal itu bisa menjadi pelajaran berharga baginya. "Untuk ini, tentu dia juga mengambil banyak pengalaman dari orang-orang itu. Mungkin saya bisa belajar," ujarnya. "Saya masih di tahun-tahun awal saya di MotoGP, kami berharap, untuk ini saya pikir pada tahap itu, untuk bagaimana mengelola balapan, tekanan, dia adalah seorang yang sudah memenangkan sembilan gelar – dia memiliki pengalaman yang cukup, mungkin dia bisa berbagi kepada saya juga."
Potensi kolaborasi dengan Marc Marquez menawarkan prospek yang menarik bagi perkembangan Acosta. Pengalaman Marquez dalam menghadapi berbagai situasi balapan, mengelola tekanan kejuaraan, dan bekerja dengan tim teknis akan sangat berharga bagi Acosta yang sedang meniti karier di kelas utama. Sementara itu, bagi KTM, tantangan untuk mengatasi masalah reliabilitas ini akan menjadi ujian penting. Keandalan motor adalah fondasi utama bagi setiap tim yang ingin bersaing di level tertinggi, dan kegagalan berulang seperti yang dialami Acosta dapat merusak moral tim serta prospek di masa depan. Fokus kini beralih ke Assen, di mana Acosta akan berusaha memaksimalkan paket yang ada, sembari menunggu solusi yang diharapkan datang setelah jeda musim panas dan balapan di Sachsenring.
