Para penggemar sepak bola di seluruh dunia dihadapkan pada tantangan baru menjelang babak gugur Piala Dunia 2026. Dengan penambahan jumlah peserta menjadi 48 tim, format turnamen yang lebih kompleks ini tidak hanya membuat para pemain berjuang keras di lapangan, tetapi juga menuntut pemahaman mendalam dari para penonton mengenai skema kelolosan tim favorit mereka. Dari aturan penentuan peringkat yang berbeda hingga melibatkan tiga negara tuan rumah dengan empat zona waktu, edisi kali ini menjanjikan drama yang lebih intens dan serangkaian perhitungan rumit.
Perubahan signifikan pada Piala Dunia 2026 adalah ekspansi tim peserta dari 32 menjadi 48, sebuah keputusan yang diambil FIFA untuk meningkatkan partisipasi global dan daya tarik komersial turnamen. Penambahan tim ini secara otomatis memperbanyak jumlah pertandingan, dari 64 menjadi 104, dan memperpanjang durasi turnamen. Akibatnya, fase grup kini terbagi menjadi 12 grup, masing-masing berisi empat tim. Kondisi ini menghasilkan total 495 kemungkinan kombinasi pertandingan, menciptakan labirin strategis yang bahkan sulit dipahami oleh pengamat sepak bola paling setia sekalipun.
Dari 48 tim yang berkompetisi di fase grup, hanya 32 tim terbaik yang akan melaju ke babak gugur. Mekanisme kelolosannya cukup unik: dua tim teratas dari setiap 12 grup secara otomatis berhak mendapatkan tiket ke babak 32 besar. Ini berarti sudah ada 24 tim yang aman posisinya. Sisanya, delapan slot, akan diperebutkan oleh tim-tim yang finis di posisi ketiga grup. Delapan tim peringkat ketiga terbaik dari 12 grup akan melengkapi kuota babak 32 besar, menjadikan setiap pertandingan, bahkan bagi tim yang mungkin dianggap lemah, sangat berarti untuk mendapatkan poin atau setidaknya menjaga selisih gol.
Beberapa tim telah menunjukkan dominasinya di awal turnamen, memastikan posisi mereka di babak gugur lebih awal. Jerman, sebagai salah satu kekuatan sepak bola Eropa, telah mengamankan tempatnya. Demikian pula dengan dua dari tiga negara tuan rumah, Meksiko dan Amerika Serikat, yang berhasil meraih kemenangan di dua laga awal mereka, mengumpulkan enam poin sempurna dan memimpin grup masing-masing. Keberhasilan awal ini menunjukkan adaptasi cepat mereka terhadap format baru dan memberikan sedikit kelegaan di tengah kerumitan perhitungan.
Kerumitan sesungguhnya muncul ketika dua, tiga, atau bahkan empat tim di dalam satu grup memiliki jumlah poin yang sama. Jika sebelumnya selisih gol menjadi penentu utama sejak Piala Dunia 1970, kini metode tersebut digantikan oleh hasil head-to-head atau pertemuan langsung. Artinya, jika dua tim memiliki poin sama, tim yang berhasil mengalahkan lawannya dalam pertemuan langsung akan menempati peringkat lebih tinggi. Perubahan ini menuai pro dan kontra. Para pendukungnya berpendapat bahwa metode head-to-head lebih adil karena tidak terlalu dipengaruhi oleh kemenangan besar melawan tim yang lebih lemah, yang bisa memanipulasi selisih gol.
Namun, jika head-to-head saja tidak cukup memisahkan tim-tim dengan poin sama, serangkaian kriteria tambahan akan diberlakukan secara berurutan. Pertama, poin yang diraih dalam pertandingan antarmereka akan menjadi penentu. Jika masih imbang, selisih gol dalam pertandingan antarmereka akan dihitung, diikuti oleh jumlah gol yang dicetak dalam pertandingan antarmereka. Apabila kondisi masih belum terpisah, perhitungan akan meluas ke seluruh pertandingan grup, dimulai dengan selisih gol keseluruhan, lalu jumlah gol yang dicetak keseluruhan.
Jika semua kriteria sepak bola masih menghasilkan hasil imbang, FIFA memiliki penentu unik yang disebut Skor Perilaku Tim (Team Conduct Score/TCS). Setiap negara memulai turnamen dengan skor nol. Poin akan dikurangi berdasarkan kartu yang diterima oleh pemain atau ofisial tim: kartu kuning mengurangi 1 poin, kartu merah akibat dua kartu kuning mengurangi 3 poin, kartu merah langsung mengurangi 4 poin, dan kombinasi kuning lalu merah langsung mengurangi 5 poin. Semakin mendekati nol, semakin baik skornya, mengindikasikan fair play yang lebih tinggi. Sebagai contoh, Afrika Selatan dilaporkan memiliki TCS terburuk sejauh ini, dengan -12 setelah menerima dua kartu merah langsung dan empat kartu kuning. Apabila semua faktor ini telah digunakan dan kondisi masih tetap imbang, peringkat FIFA bulan Juni yang lebih tinggi akan menjadi penentu akhir.
Kriteria yang sama persis juga digunakan untuk menentukan peringkat tim-tim di posisi ketiga dari setiap grup. Proses ini krusial karena hanya delapan tim peringkat ketiga terbaik dari 12 grup yang akan mendapatkan kesempatan melanjutkan perjuangan di babak 32 besar. Setelah ke-32 tim lolos, skema pertandingan babak gugur akan semakin menarik. Empat juara grup akan menghadapi runner-up grup lainnya, sementara delapan juara grup lainnya akan bertemu salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik. Sisanya, runner-up grup, akan saling berhadapan satu sama lain. Jadwal pertandingan yang telah ditetapkan FIFA bahkan mencantumkan lima kemungkinan dari delapan laga babak 32 besar yang melibatkan tim peringkat ketiga, dengan penempatan berdasarkan urutan terbaik dari tim peringkat ketiga yang lolos.
Meskipun masih bersifat proyeksi dan sangat mungkin berubah, gambaran awal mengenai potensi jalur tim menuju final sudah mulai terbentuk. Misalnya, Inggris, yang saat ini memimpin Grup L, diperkirakan akan menghadapi Portugal, tim peringkat ketiga dari Grup K, dalam pertandingan babak 32 besar di Atlanta pada 1 Juli. Jika Inggris ingin mencapai final di Stadion New York New Jersey pada 19 Juli, mereka kemungkinan harus melewati serangkaian lawan tangguh seperti Spanyol, Prancis atau Brasil, dan berpotensi bertemu juara bertahan Argentina di semifinal.
Sementara itu, Skotlandia dari Grup C, yang saat ini menjadi tim peringkat ketiga terbaik, diproyeksikan akan berhadapan dengan juara Grup E (kemungkinan besar Jerman) di Boston pada 29 Juni. Pemenang antara Skotlandia atau Jerman berpotensi menghadapi Belanda di babak 16 besar, membuka jalan bagi tim seperti Maroko untuk melangkah lebih jauh, dan Amerika Serikat pun memiliki peluang setidaknya mencapai perempat final di kandang sendiri. Namun, perlu ditekankan bahwa semua perkiraan ini masih sangat dinamis dan dapat berubah drastis dalam beberapa hari ke depan. Dengan berakhirnya fase grup pada 29 Juni, setiap poin, setiap gol, dan bahkan setiap kartu yang diterima akan benar-benar menentukan nasib tim di turnamen akbar ini.
