Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Mata uang Garuda terdepresiasi 19 poin atau sekitar 0,11 persen, mengakhiri hari di level Rp17.744 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah ini diperkirakan tidak lepas dari gejolak aksi demonstrasi yang mewarnai sejumlah wilayah di Indonesia pada hari yang sama. Ketidakpastian politik dan sosial yang timbul akibat aksi tersebut kerap menjadi sentimen negatif yang membebani pergerakan mata uang domestik.
Analis pasar keuangan, Budi Santoso, dalam keterangannya pada Kamis (27/8/2026), menyatakan bahwa aksi demonstrasi yang meluas berpotensi menimbulkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri. “Sentimen negatif dari demonstrasi ini bisa membuat investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di Indonesia,” ujar Budi Santoso.
Lebih lanjut, Budi Santoso menambahkan bahwa meskipun pelemahan rupiah pada hari ini tergolong moderat, namun jika tren demonstrasi terus berlanjut dan meluas, dampaknya terhadap nilai tukar dapat semakin signifikan. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas keamanan dan stabilitas politik untuk memulihkan kepercayaan investor.
Pergerakan rupiah sepanjang hari Kamis menunjukkan tren pelemahan yang konsisten. Dibuka pada level Rp17.725 per dolar AS, rupiah sempat mencoba bertahan namun terus tergerus oleh sentimen pasar yang negatif. Di sesi akhir perdagangan, rupiah akhirnya tertahan di angka Rp17.744.
Analis lain, Siti Aminah, turut menyoroti faktor eksternal yang mungkin turut memengaruhi pergerakan rupiah. “Selain isu domestik dari demonstrasi, pergerakan dolar AS secara global juga perlu dicermati. Namun, dalam konteks pelemahan hari ini, sentimen demonstrasi tampaknya menjadi faktor dominan yang membebani rupiah,” jelas Siti Aminah.
Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan dapat segera meredakan ketegangan dan memberikan kepastian agar sentimen negatif di pasar keuangan dapat berkurang. Stabilitas ekonomi dan politik menjadi kunci utama dalam menjaga fundamental rupiah agar tidak terus tertekan oleh berbagai gejolak.
