Badan Geologi (BGN) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara terkait polemik pembagian Makanan Bergizi Gizi (MBG) bagi korban Bencana Asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang disalurkan melalui sekolah. BGN menegaskan bahwa program ini telah berjalan sesuai prosedur dan tujuannya adalah memberikan bantuan yang tepat sasaran kepada masyarakat terdampak.
Penjelasan ini disampaikan menyusul adanya sorotan terhadap mekanisme penyaluran bantuan MBG. BGN ingin meluruskan pandangan yang mungkin keliru mengenai proses dan kriteria penerima bantuan tersebut. Fokus utama adalah memastikan bahwa bantuan gizi ini benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan di tengah situasi darurat bencana asap.
Mekanisme pembagian MBG, menurut BGN, telah dirancang agar efisien dan transparan. Pemilihan sekolah sebagai titik distribusi didasarkan pada pertimbangan logistik dan jangkauan yang lebih luas kepada masyarakat yang terdampak langsung oleh Karhutla. Sekolah seringkali menjadi pusat kegiatan komunitas dan mudah diakses oleh warga di wilayah yang terkena dampak.
Lebih lanjut, BGN menjelaskan bahwa kriteria penerima MBG difokuskan pada kelompok rentan yang paling terdampak oleh kabut asap. Ini mencakup anak-anak usia dini, ibu hamil, dan lansia yang membutuhkan asupan gizi tambahan untuk menjaga kesehatan mereka selama masa krisis. Pendataan dilakukan secara cermat untuk memastikan bantuan tidak salah sasaran.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono, dalam pernyataannya di Jakarta pada hari Senin, 16 September 2019, menegaskan, “Program MBG ini adalah bentuk kepedulian pemerintah kepada masyarakat yang terdampak bencana asap. Kita berupaya agar bantuan ini tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran.” Pernyataannya ini menggarisbawahi komitmen BGN dalam menjalankan program bantuan ini.
BGN juga menekankan bahwa segala bentuk informasi terkait program ini akan terus dikomunikasikan secara berkala kepada publik. Tujuannya adalah agar masyarakat memahami alur dan tujuan dari setiap bantuan yang diberikan, termasuk MBG. Dengan demikian, diharapkan polemik yang muncul dapat diredam dan fokus dapat kembali pada penanganan bencana serta pemulihan kondisi masyarakat.
