Memaknai Awal Tahun Islam: Keutamaan dan Panduan Lengkap Puasa Tasua dan Asyura

Heni Maulidya

Menyambut pergantian tahun dalam kalender Hijriah selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan spiritualitas. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan Muharram, bulan pertama dalam penanggalan Islam, adalah melaksanakan puasa Tasua dan Asyura. Ibadah ini tidak hanya bernilai pahala yang besar, tetapi juga dipercaya memiliki keutamaan luar biasa, termasuk menjadi sarana penghapus dosa setahun yang telah berlalu. Memahami tata cara, niat, serta jadwal pelaksanaannya menjadi kunci agar ibadah ini dapat dijalankan dengan maksimal dan sesuai syariat.

Muharram memegang posisi penting sebagai salah satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam bulan-bulan ini, amalan baik dilipatgandakan pahalanya, sementara perbuatan buruk memiliki konsekuensi yang lebih berat. Di antara berbagai amalan sunnah yang dapat dikerjakan di bulan Muharram, puasa pada tanggal 9 (Tasua) dan 10 (Asyura) Muharram memiliki keistimewaan tersendiri, bahkan ditempatkan setelah puasa wajib Ramadhan. Keutamaan ini didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda mengenai puasa Asyura: "Puasa Asyura aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu." Hadis ini menggarisbawahi betapa besar potensi ampunan yang dapat diraih melalui amalan sederhana ini.

Secara historis, tanggal 10 Muharram memiliki jejak peristiwa penting dalam sejarah Islam. Hari tersebut merupakan momen ketika Allah SWT memberikan pertolongan kepada Nabi Musa AS beserta kaum Bani Israil untuk selamat dari kejaran Firaun. Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan tersebut, Nabi Musa berpuasa pada hari itu. Kebiasaan ini kemudian juga diikuti oleh masyarakat Yahudi di Madinah. Mengetahui hal ini, Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk turut berpuasa pada hari Asyura. Namun, untuk membedakan ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi, Rasulullah SAW menambahkan anjuran untuk berpuasa sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram, yang dikenal sebagai puasa Tasua. Beliau bersabda: "Jika datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa juga pada tanggal sembilan." Meskipun Rasulullah SAW wafat sebelum sempat menunaikan puasa Tasua pada tahun berikutnya, para ulama sepakat bahwa puasa Tasua tetap menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk melengkapi puasa Asyura, sebagai bentuk ikhtiar mengikuti sunnah Rasulullah dan membedakan diri dari praktik ibadah umat lain.

Inti dari setiap ibadah adalah niat, termasuk dalam menjalankan puasa sunnah Tasua dan Asyura. Meskipun niat pada dasarnya cukup diucapkan dalam hati dengan penuh keyakinan untuk berpuasa semata-mata karena Allah SWT, melafalkannya secara lisan disunnahkan untuk membantu memantapkan tekad. Untuk puasa Tasua yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, lafal niat yang dapat dibaca adalah: "Nawaitu shauma tasua’a sunnatan lillahi ta’ala." Artinya, "Aku niat puasa Tasua, sunnah karena Allah Ta’ala." Sementara itu, untuk puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, bacaan niatnya adalah: "Nawaitu shauma ‘asyura sunnatan lillahi ta’ala." Artinya, "Aku niat puasa Asyura, sunnah karena Allah Ta’ala." Penting untuk diingat bahwa niat puasa sunnah ini memiliki kelonggaran waktu. Niat dapat diucapkan sejak malam hari hingga sebelum waktu zuhur di keesokan harinya, asalkan selama rentang waktu tersebut belum makan, minum, atau melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.

Penentuan pasti tanggal pelaksanaan puasa Tasua dan Asyura di Indonesia mengacu pada hasil pemantauan hilal (rukyatul hilal) dan sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Namun, berdasarkan prediksi kalender Ummul Qura Arab Saudi dan perhitungan astronomis, kita dapat memperkirakan jatuhnya kedua tanggal penting ini di tahun 2026. Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H diprediksi jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026. Dengan demikian, puasa Tasua pada 9 Muharram 1448 H diperkirakan akan dilaksanakan pada hari Kamis, 25 Juni 2026, sementara puasa Asyura pada 10 Muharram 1448 H jatuh pada hari Jumat, 26 Juni 2026. Masyarakat dihimbau untuk tetap menunggu pengumuman resmi dari Kemenag RI, mengingat potensi perbedaan dalam metode hisab dan rukyatul hilal yang dapat memengaruhi penetapan tanggal.

Tata cara pelaksanaan puasa Tasua dan Asyura pada dasarnya sama dengan puasa pada umumnya, baik puasa wajib maupun sunnah lainnya. Dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa. Persiapan diawali dengan sahur, yang sangat dianjurkan untuk menambah keberkahan dan kekuatan fisik dalam menjalankan ibadah. Kemudian dilanjutkan dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sepanjang hari. Saat tiba waktu berbuka puasa, dianjurkan untuk segera berbuka dengan makanan dan minuman yang halal, serta memanjatkan doa. Keunikan puasa sunnah seperti Tasua dan Asyura terletak pada kelonggaran hukumnya. Apabila seseorang memiliki udzur syar’i yang mengharuskan untuk membatalkan puasa di tengah hari, ia diperbolehkan melakukannya tanpa kewajiban untuk mengganti puasa tersebut di hari lain (qadha). Namun demikian, sangat disayangkan jika puasa dibatalkan tanpa alasan yang mendesak, mengingat besarnya keutamaan yang ditawarkan.

Dalam praktiknya, terkadang muncul beberapa pertanyaan terkait puasa Muharram. Salah satunya adalah mengenai kebolehan menjalankan puasa Asyura saja tanpa puasa Tasua. Jawabannya adalah boleh dan sah. Namun, para ulama menyarankan untuk mengombinasikan keduanya, yaitu berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, agar lebih afdal dan mengikuti anjuran Rasulullah SAW untuk membedakan diri dari kebiasaan kaum Yahudi. Pertanyaan lain yang sering muncul adalah mengenai lupa berniat di malam hari. Untuk puasa sunnah seperti Tasua dan Asyura, niat boleh dilakukan pada pagi hari setelah subuh, asalkan belum ada aktivitas makan, minum, atau pembatal puasa lainnya sejak fajar. Terkait keutamaan menghapus dosa, mayoritas ulama berpendapat bahwa penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis adalah dosa-dosa kecil. Sementara itu, untuk dosa besar, tetap diperlukan taubat nasuha yang tulus dan sungguh-sungguh kepada Allah SWT.

Memasuki tahun baru Islam, puasa Tasua dan Asyura menjadi sarana berharga untuk merefleksikan diri, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan memahami keutamaan, niat, dan jadwal pelaksanaannya, umat Islam dapat memaksimalkan ibadah di bulan yang penuh berkah ini. Penting untuk selalu merujuk pada ketetapan resmi pemerintah terkait penentuan awal bulan Hijriah demi keseragaman dan keabsahan ibadah.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All