Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengembangan teknologi kedirgantaraan nasional. Upaya ini terwujud melalui pengembangan roket dua tingkat yang direncanakan untuk menjalani uji terbang perdana pada tahun 2029.
Proyek ambisius ini merupakan bagian dari Program Riset Invitasi Strategis yang digagas BRIN. Fokus utama dari program ini adalah untuk mendorong kemandirian Indonesia dalam menciptakan teknologi roket yang canggih dan mampu bersaing di kancah internasional.
Kepala Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Hery Harjanto, menjelaskan bahwa roket yang sedang dikembangkan ini memiliki desain dua tingkat. Konsep ini dipilih untuk meningkatkan jangkauan dan kemampuan roket secara keseluruhan. Ia menambahkan, “Ini adalah upaya kita untuk bisa membuat roket yang benar-benar karya anak bangsa.” Pernyataan ini menekankan komitmen BRIN untuk membangun kapabilitas riset dan pengembangan domestik.
Proses pengembangan roket dua tingkat ini tidak terlepas dari berbagai tahapan riset dan pengujian yang telah dilakukan BRIN. Sejumlah komponen krusial, termasuk mesin roket, telah berhasil diuji di fasilitas yang tersedia. “Kita sudah menguji mesinnya, hasilnya juga sudah cukup baik,” ungkap Hery dalam keterangan resminya.
Lebih lanjut, Hery Harjanto juga memaparkan bahwa BRIN tengah berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksi motor roket. Saat ini, BRIN mampu memproduksi motor roket dengan diameter 320 milimeter. Target selanjutnya adalah mampu memproduksi motor roket dengan diameter yang lebih besar, yaitu 420 milimeter, yang akan menjadi komponen penting untuk roket dua tingkat yang sedang dikembangkan.
Pengembangan roket dua tingkat ini merupakan langkah strategis BRIN dalam mewujudkan kemandirian teknologi luar angkasa Indonesia. Dengan target uji terbang pada 2029, Indonesia berambisi untuk turut serta dalam peta jalan pengembangan industri roket global, sekaligus memperkuat kedaulatan sains dan teknologi nasional.
