Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menghadapi tantangan berlapis. Berbagai faktor, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga medan yang sulit, menjadi batu sandungan serius dalam penanganan bencana ekologis ini.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto merinci berbagai persoalan yang dihadapi tim gabungan di lapangan. Salah satu kendala utama adalah minimnya ketersediaan peralatan yang memadai untuk menjangkau area kebakaran yang luas dan terpencil.
“Saya melihat sendiri banyak tim di lapangan itu kekurangan alat, kekurangan perlengkapan, kekurangan personel. Jadi, ada beberapa titik api yang mungkin belum bisa kita padamkan karena alatnya tidak sampai,” ungkap Suharyanto dalam keterangan persnya yang disiarkan kanal YouTube BNPB Indonesia pada Selasa (12/9/2023). Ia menambahkan, sebagian besar area kebakaran memiliki kontur tanah yang sulit diakses, seperti daerah rawa atau berbukit, yang memperlambat pergerakan tim pemadam.
Kondisi geografis tersebut memaksa tim untuk menggunakan metode pemadaman manual yang memakan waktu dan tenaga ekstra. Suharyanto menyoroti, tanpa dukungan alat yang memadai, upaya pemadaman menjadi sangat tidak efisien. Hal ini diperparah dengan kurangnya personel yang siap siaga di lokasi-lokasi rawan.
Selain kendala teknis dan logistik, Suharyanto juga menyinggung soal pentingnya edukasi kepada masyarakat. Ia menekankan bahwa pencegahan adalah kunci utama dalam menanggulangi karhutla. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman, tapi harus ada pencegahan yang baik. Edukasi kepada masyarakat sangat penting agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” tegasnya. Ia berharap, dengan adanya peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat, kasus karhutla dapat diminimalisir di masa mendatang.
