Saturday, 22 August 2026
BREAKING
TEKNOLOGI

Fenomena Matahari Merah di Palangka Raya: Kabut Asap Karhutla Jadi Biang Kerok

Oleh Herfansyah August 22, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Langit Palangka Raya diselimuti fenomena langka berupa matahari yang tampak berwarna merah menyala pada hari Selasa, 17 September 2019. Kejadian tak biasa ini sontak menarik perhatian warga dan memunculkan berbagai spekulasi. Namun, di balik keindahan yang sedikit mencekam itu, terdapat penjelasan ilmiah yang tegas dari para ahli.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), penyebab utama dari penampakan matahari merah ini adalah kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan Tengah. Asap yang mengandung partikel-partikel halus ini telah menyelimuti atmosfer Palangka Raya, mengubah cara cahaya matahari sampai ke mata kita.

Kepala BMKG Palangka Raya, Himawan, dalam keterangannya pada tanggal yang sama, menjelaskan bahwa partikel-partikel halus dalam asap, seperti abu dan jelaga, memiliki kemampuan untuk menyebarkan cahaya matahari. “Partikel-partikel halus ini lebih efektif dalam menghamburkan cahaya biru dan hijau yang memiliki panjang gelombang lebih pendek. Akibatnya, cahaya merah dan oranye yang memiliki panjang gelombang lebih panjanglah yang dominan mencapai mata pengamat,” ujar Himawan.

Penjelasan ini sejalan dengan temuan penelitian ilmiah mengenai hamburan Rayleigh. Fenomena hamburan Rayleigh menjelaskan bagaimana cahaya matahari berinteraksi dengan molekul-molekul di atmosfer. Ketika atmosfer dipenuhi oleh partikel-partikel besar seperti asap, hamburan yang terjadi menjadi lebih kompleks, dikenal sebagai hamburan Mie. Hamburan Mie ini cenderung menyebarkan semua panjang gelombang cahaya secara merata, namun jika partikelnya sangat halus dan banyak, efek dominan adalah hilangnya warna biru dan hijau.

Dosen Departemen Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Riza Muhida, M.Sc., yang turut menganalisis fenomena ini, mengonfirmasi bahwa konsentrasi partikel asap yang tinggi di atmosfer Palangka Raya pada saat itu menjadi kunci utama. “Semakin tebal lapisan asap, semakin banyak cahaya biru dan hijau yang terhalang, sehingga yang tersisa dan terlihat oleh mata adalah spektrum warna merah,” jelas Dr. Riza. Ia menambahkan bahwa fenomena matahari berwarna kemerahan juga sering terjadi saat matahari terbit dan terbenam, namun intensitasnya kali ini jauh lebih dramatis akibat pengaruh kabut asap karhutla.

Kejadian ini menjadi pengingat nyata akan dampak buruk kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya mengancam kesehatan warga, tetapi juga dapat mengubah lanskap alam secara visual. BMKG terus memantau kualitas udara dan perkembangan karhutla di wilayah tersebut, serta mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Bagikan: Facebook X WhatsApp