Friday, 21 August 2026
BREAKING
DUNIA

Latihan Militer Gabungan AS-Korsel Diakhiri Lebih Awal, Kim Jong Un Diuntungkan?

Oleh Rini Widiyarti August 21, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Amerika Serikat dan Korea Selatan mengakhiri latihan militer gabungan mereka lebih cepat dari jadwal pada hari Jumat. Keputusan ini diambil di tengah situasi di mana Korea Utara justru berada dalam posisi yang lebih kuat. Penghentian latihan bersama ini menimbulkan pertanyaan mengenai implikasi bagi keamanan regional, terutama mengingat upaya Presiden AS Donald Trump untuk menjalin hubungan baik dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Latihan yang biasanya berlangsung selama beberapa minggu ini, kini dipersingkat. Keputusan ini diambil setelah Trump menyatakan keinginannya untuk membangun hubungan baik dengan Kim Jong Un. Namun, para kritikus khawatir bahwa langkah ini justru dapat memberikan keuntungan strategis bagi Pyongyang, sementara Korea Selatan berpotensi menanggung konsekuensi yang lebih besar.

“Ini adalah momen yang sangat penting. Penghentian latihan militer gabungan AS-Korsel ini, di saat Korea Utara dalam posisi yang kuat, merupakan sebuah perkembangan yang patut dicermati,” ujar seorang analis keamanan yang tidak disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa langkah ini bisa diinterpretasikan sebagai sinyal kelemahan dari pihak AS dan Korsel, yang justru dimanfaatkan oleh rezim Kim Jong Un untuk memperkuat posisinya di panggung internasional.

Trump sendiri telah berulang kali mengungkapkan optimismenya terhadap kemampuan dialog dengan Kim Jong Un. Setelah pertemuan puncak bersejarah di Singapura pada Juni 2018, Trump menyatakan, “Saya pikir kita bisa menjadi teman baik.” Pernyataan ini menggarisbawahi pendekatan diplomasi pribadi yang diambil oleh Presiden AS tersebut terhadap pemimpin Korea Utara, yang berbeda dari kebijakan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Namun, para pejabat pertahanan di Seoul dan Washington menyuarakan kekhawatiran bahwa penghentian latihan militer gabungan dapat mengurangi kesiapan tempur kedua negara. Latihan-latihan ini dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas dan kemampuan respons gabungan terhadap ancaman dari Korea Utara. Dengan dihentikannya latihan lebih awal, efektivitas persiapan menghadapi potensi agresi dari Pyongyang menjadi pertanyaan besar.

“Setiap pengurangan dalam latihan militer gabungan berisiko melemahkan postur pertahanan kolektif kami,” kata seorang mantan pejabat tinggi pertahanan AS. “Korea Utara terus mengembangkan program senjata nuklir dan rudalnya. Mengurangi latihan bersama di saat seperti ini bisa menjadi sinyal yang salah kepada Pyongyang, bahwa komunitas internasional kurang serius dalam menghadapi ancaman tersebut.”

Keputusan untuk mengakhiri latihan militer gabungan lebih awal ini muncul setelah pertemuan kedua Trump dan Kim di Hanoi, Vietnam, pada Februari 2019, yang berakhir tanpa kesepakatan mengenai denuklirisasi. Meski demikian, Trump tetap mempertahankan nada positif terhadap Kim Jong Un, bahkan setelah pertemuan tersebut.

Dampak jangka panjang dari penghentian latihan ini terhadap stabilitas di Semenanjung Korea masih belum jelas. Sementara Trump berupaya untuk meredakan ketegangan melalui diplomasi personal, Korea Selatan sebagai negara tetangga langsung Korea Utara, kemungkinan akan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya jika upaya perdamaian tidak membuahkan hasil yang signifikan dan jika Korea Utara memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat pengaruhnya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp