Amerika Serikat mengumumkan bakal memberlakukan sanksi ekonomi paling ketat dalam sejarah terhadap Iran. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Washington untuk menekan Teheran, termasuk dengan menerapkan blokade laut, demi melumpuhkan rezim negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa sanksi baru ini akan menargetkan sektor-sektor vital ekonomi Iran. “Kami menerapkan sanksi terberat dalam sejarah kepada Iran,” ujar Trump dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (5/8/2019). Ia menambahkan bahwa tujuan utama dari sanksi ini adalah untuk membatasi kemampuan Iran dalam mendanai aktivitas destabilisasinya di kawasan.
Sanksi yang akan diterapkan ini merupakan kelanjutan dari keputusan AS pada Mei 2018 yang menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA). Saat itu, AS juga memberlakukan kembali sanksi-sanksi yang sebelumnya telah dicabut sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir Iran. Namun, sanksi yang akan berlaku ini diklaim Trump sebagai yang terberat.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menambahkan bahwa sanksi ini akan mencakup berbagai sektor, termasuk minyak, perbankan, dan keuangan. “Kami akan membatasi akses Iran terhadap sistem keuangan global,” tegas Pompeo dalam kesempatan terpisah. Ia juga menggarisbawahi bahwa sanksi ini bertujuan untuk menghentikan pendanaan Iran bagi kelompok-kelompok yang dianggapnya sebagai teroris.
Selain sanksi ekonomi, AS juga mengisyaratkan kemungkinan penerapan blokade laut di perairan strategis yang dilalui jalur pelayaran Iran. Langkah ini diklaim bertujuan untuk semakin mengisolasi Iran secara ekonomi dan membatasi pergerakan ekspor minyaknya yang menjadi tulang punggung pendapatan negara tersebut. Trump menyatakan bahwa “blokade laut juga menjadi opsi yang sedang dipertimbangkan untuk meningkatkan tekanan”.
Pemerintah Iran sendiri telah bereaksi keras terhadap rencana sanksi baru ini. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebut sanksi tersebut sebagai tindakan ilegal dan tidak efektif. “Iran tidak akan tunduk pada ancaman dan tekanan. Kami akan terus membela kedaulatan kami,” kata Zarif dalam sebuah konferensi pers di Teheran. Ia juga memperingatkan bahwa langkah AS ini akan semakin memperburuk ketegangan di kawasan.
Pihak-pihak internasional lainnya, termasuk Uni Eropa, telah menyuarakan keprihatinan atas eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Mereka mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan dan mencari solusi diplomatik atas perbedaan yang ada. Namun, dengan diterapkannya sanksi terberat dalam sejarah ini, prospek deeskalasi tampaknya semakin menjauh.
