Amerika Serikat dan Korea Selatan memutuskan untuk memperpendek durasi latihan militer gabungan tahunan mereka, Ulchi Freedom Shield (UFS). Keputusan ini diambil menyusul adanya kritik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menilai latihan tersebut terlalu mahal dan provokatif.
Latihan yang sebelumnya berlangsung selama 10 hari ini, kini akan dipersingkat menjadi empat hari saja. Perubahan ini merupakan bagian dari upaya penyesuaian kebijakan pertahanan kedua negara, terutama dalam merespons perkembangan situasi di Semenanjung Korea.
Keputusan ini dilaporkan oleh Associated Press pada 12 November 2019. “Kami memutuskan untuk mengurangi durasi latihan Ulchi Freedom Shield,” ujar Menteri Pertahanan Korea Selatan Jeong Kyeong-doo dalam sebuah pernyataan kepada wartawan di Pentagon, Washington D.C. Ia menambahkan bahwa latihan tersebut akan dimulai pada 3 November dan berakhir pada 7 November 2019.
Jeong Kyeong-doo menjelaskan bahwa pengurangan durasi ini tidak akan mengurangi efektivitas latihan. “Kami telah menyesuaikan skala latihan ini untuk mencerminkan perubahan situasi keamanan dan memungkinkan kami untuk fokus pada tujuan strategis yang lebih luas,” katanya. Ia juga menekankan bahwa komitmen kedua negara terhadap pertahanan bersama tetap kuat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah beberapa kali menyuarakan kritiknya terhadap latihan militer gabungan dengan Korea Selatan. Trump berpendapat bahwa latihan tersebut memicu ketegangan dengan Korea Utara dan membebani anggaran pertahanan Amerika Serikat. Ia bahkan sempat mengusulkan penghentian total latihan tersebut.
Meskipun demikian, para pejabat militer Amerika Serikat dan Korea Selatan menegaskan bahwa keputusan untuk memperpendek Ulchi Freedom Shield tidak sepenuhnya disebabkan oleh tekanan dari Trump. Mereka menyatakan bahwa penyesuaian ini merupakan hasil evaluasi bersama yang mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk dinamika regional dan efisiensi sumber daya.
Latihan Ulchi Freedom Shield sendiri merupakan simulasi perang yang dirancang untuk meningkatkan kesiapan tempur pasukan gabungan AS-Korea Selatan dalam menghadapi potensi ancaman dari Korea Utara. Latihan ini biasanya melibatkan ribuan personel militer dari kedua negara dan mencakup berbagai skenario pertahanan.
