Duravyu, obat yang dikembangkan oleh EyePoint Pharmaceuticals untuk pengobatan age-related macular degeneration (AMD) basah, belum berhasil mencapai titik akhir utama dalam uji klinis tahap 3 LUGANO. Meskipun demikian, data terbaru dari uji coba tersebut menunjukkan hasil yang menjanjikan terkait beban pengobatan, tingkat pasien yang tidak memerlukan suplemen, serta kontrol anatomis.
Uji klinis LUGANO dan LUCIA, yang bersifat acak, terselubung ganda, dan uji noninferioritas, dirancang untuk mengevaluasi keamanan dan efikasi Duravyu (vorolanib intravitreal insert) dibandingkan dengan aflibercept 2 mg yang sudah disetujui untuk indikasi serupa. Lebih dari 900 pasien telah terdaftar dalam kedua uji coba ini, yang berfokus pada pasien dengan AMD basah.
Meskipun dataset lengkap dari uji klinis LUGANO tidak memenuhi kriteria titik akhir utama yang telah ditetapkan, analisis lebih mendalam mengungkapkan aspek-aspek positif yang signifikan. Tingkat kebutuhan suplemen yang lebih rendah pada kelompok pasien yang menerima Duravyu menjadi salah satu temuan penting, yang mengindikasikan potensi pengurangan frekuensi kunjungan dan intervensi medis bagi pasien.
Selain itu, kontrol anatomis yang dicapai oleh Duravyu juga menunjukkan hasil yang positif. Ini merujuk pada kemampuan obat untuk mengendalikan pertumbuhan pembuluh darah abnormal dan kebocoran cairan di retina, yang merupakan ciri khas AMD basah. Kemampuan ini krusial dalam mencegah atau memperlambat kehilangan penglihatan.
EyePoint Pharmaceuticals, melalui siaran persnya, mengonfirmasi temuan ini. Perusahaan berencana untuk terus mengevaluasi data yang ada dan mendiskusikan langkah selanjutnya berdasarkan hasil komprehensif dari program uji klinis LUGANO dan LUCIA. Detail spesifik mengenai titik akhir utama yang tidak tercapai belum diungkapkan secara rinci, namun fokus pada aspek-aspek positif diharapkan dapat memberikan arah baru dalam pengembangan pengobatan AMD basah di masa depan.
