Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi gelombang kritik dan kekhawatiran politik pasca penolakannya terhadap rencana perdamaian yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keputusan ini muncul di tengah persiapan Israel untuk menggelar pemilihan umum, menambah kerumitan lanskap politik bagi Netanyahu yang tengah berupaya mempertahankan posisinya.
Rencana yang diusulkan oleh Trump, yang telah digembar-gemborkan sebagai “kesepakatan abad ini”, mendapatkan penolakan keras dari Netanyahu. “Kami tidak akan mengizinkan pembentukan negara Palestina yang teroris di luar negeri,” tegas Netanyahu dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan televisi pada hari Sabtu (15/2/2020). Pernyataan ini menegaskan sikap Israel yang menolak sebagian besar poin utama dari proposal tersebut, termasuk pembentukan negara Palestina di wilayah yang dicakup oleh proposal tersebut.
Kritik terhadap Netanyahu datang dari berbagai penjuru. Mantan penasihat keamanan nasional Israel, Giora Eiland, berpendapat bahwa penolakan ini dapat berujung pada sanksi internasional terhadap Israel. “Setiap negara yang menolak peta jalan perdamaian yang disajikan oleh AS pada dasarnya menempatkan dirinya dalam isolasi internasional,” ujar Eiland kepada Radio Angkatan Darat Israel. Ia menambahkan bahwa penolakan ini akan memberikan legitimasi kepada negara-negara lain untuk menjatuhkan sanksi terhadap Israel, sebuah konsekuensi yang bisa sangat merugikan.
Sementara itu, para pejabat Palestina juga menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap rencana tersebut. Delegasi Palestina yang dipimpin oleh Juru Bicara Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh telah mengindikasikan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam konferensi yang akan membahas rincian rencana perdamaian tersebut. Sikap ini memperkuat penolakan kolektif terhadap proposal Trump, yang oleh banyak pihak dianggap tidak adil dan tidak menguntungkan Palestina.
Di sisi lain, Presiden Trump sendiri dilaporkan merasa frustrasi dengan penolakan Netanyahu. Sumber yang dekat dengan Gedung Putih mengindikasikan bahwa Trump merasa “terkejut” dan “kecewa” dengan sikap keras Netanyahu. Trump berharap rencananya akan diterima oleh kedua belah pihak, namun kenyataannya justru berbalik. Penolakan Netanyahu ini menambah daftar tantangan politik yang dihadapi Trump, terutama menjelang pemilihan presiden AS tahun ini. Posisi Netanyahu yang semakin terpojok akibat keputusan ini dapat berdampak pada dukungan AS terhadap Israel di masa depan, sebuah dinamika yang perlu dicermati lebih lanjut.
