Konfederasi sepak bola terbesar di dunia, UEFA, bersama CONCACAF dan AFC, tengah merancang sebuah kerangka kerja baru untuk tata kelola sepak bola internasional. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kekecewaan mendalam terhadap sistem yang dianggap menganut praktik patronase di bawah kepemimpinan Gianni Infantino, yang telah menjabat sebagai Presiden FIFA selama satu dekade.
Upaya kolaboratif antara UEFA, CONCACAF, dan AFC ini muncul setelah berbagai seruan untuk melakukan tinjauan independen terhadap tata kelola FIFA diabaikan oleh Gianni Infantino. Penolakan ini terjadi setelah rencana untuk menjual 21% saham Piala Dunia terungkap ke publik dua minggu lalu. Situasi ini mendorong para penentang kebijakan FIFA untuk mengambil inisiatif dan mengembangkan solusi mereka sendiri.
Sumber yang dekat dengan diskusi ini mengindikasikan bahwa kerangka kerja baru tersebut berfokus pada peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan di FIFA. Tujuannya adalah untuk menciptakan sistem yang lebih adil dan representatif bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola global, berbeda dengan apa yang mereka lihat sebagai praktik saat ini yang dinilai sangat terpusat dan kurang partisipatif.
Perlu dicatat bahwa sejak Gianni Infantino mengambil alih tampuk kepemimpinan FIFA menggantikan Sepp Blatter, telah muncul berbagai kritik mengenai arah kebijakan organisasi. Penolakan terhadap permintaan tinjauan independen oleh Infantino semakin memperkuat kekhawatiran yang telah ada sebelumnya.
Aliansi yang dibentuk oleh UEFA, CONCACAF, dan AFC ini diharapkan akan segera mempublikasikan proposal rinci mereka. Inisiatif ini menjadi sinyal kuat bahwa ada keinginan kuat dari berbagai pihak untuk melihat perubahan fundamental dalam cara sepak bola internasional dikelola, dengan harapan dapat mengembalikan kepercayaan dan integritas pada badan pengatur tertinggi sepak bola dunia.
