Ketegangan AS-Iran Membayangi Pasar: IHSG Anjlok ke Level Terendah dalam Lima Tahun

Heni Maulidya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Senin (8/6/2026) dengan catatan kelam, merosot tajam 4,52% ke level 5.342,13. Pelemahan signifikan ini dipicu oleh sentimen negatif global yang menguat, terutama kabar mandeknya dialog damai antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah tersebut memukul kepercayaan investor dan mendorong aksi jual masif di pasar modal Indonesia.

Pergerakan IHSG sepanjang hari tercatat sangat fluktuatif, namun tren pelemahan tak terbendung. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.523,94 sebelum akhirnya terjerembab ke titik terendah 5.317,9. Level penutupan ini merupakan yang terendah sejak 9 November 2020, menandai kemerosotan paling dalam dalam kurun waktu lebih dari lima tahun terakhir perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Data aktivitas perdagangan menunjukkan lonjakan volume transaksi yang masif, mengindikasikan besarnya tekanan jual dari investor yang berupaya meminimalkan risiko. Ketidakpastian kondisi geopolitik global secara langsung menggerus kepercayaan terhadap aset-aset berisiko, termasuk saham-saham di pasar domestik. Tekanan jual yang tinggi ini tercermin dari total frekuensi transaksi yang mencapai 1.578.713 kali dengan nilai transaksi tembus Rp22,68 triliun.

Kondisi serupa juga melanda bursa saham regional Asia. Mayoritas indeks utama di kawasan ini kompak berakhir di zona merah, menunjukkan dampak luas dari ketegangan geopolitik yang terjadi. Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi yang paling terpukul, anjlok 8,29%. Negara-negara Asia lainnya seperti Jepang (Nikkei 225 turun 3,85%, TOPIX 2,45%), Taiwan (TW Weighted Index 3,48%), China (Shenzhen Composite 3,14%, CSI 300 2,14%, Shanghai Composite 1,70%), dan Vietnam (Ho Chi Minh Stock 2,63%) juga mengalami koreksi signifikan.

Bahkan pasar saham di negara-negara yang lebih stabil seperti Singapura (Straits Times 1,71%), Hong Kong (Hang Seng 1,22%), India (SENSEX 0,97%), dan Malaysia (KLCI 0,82%) turut merasakan imbasnya, meski dengan tingkat penurunan yang lebih moderat. Hal ini menegaskan betapa sentimen global yang negatif dapat menyebar cepat dan memukul hampir seluruh pasar keuangan di Asia.

Di luar pasar saham, sentimen negatif juga merembet kuat ke pasar valuta asing. Mata uang Rupiah terpantau terus tertekan, ditutup pada level Rp18.178 per Dolar AS. Pelemahan Rupiah ini mencerminkan kekhawatiran mendalam pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Katalis utama pelemahan ini berasal dari memudarnya harapan akan dialog damai antara Iran dan Amerika Serikat. Berita mengenai potensi eskalasi konflik di Timur Tengah semakin diperparah dengan laporan serangan rudal Iran yang ditujukan ke arah Israel. Insiden ini seketika memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan, menambah beban bagi emiten-emiten yang sangat bergantung pada stabilitas harga komoditas dan pergerakan kurs.

Sejak awal tahun 2026, pasar modal Indonesia memang telah diwarnai oleh arus modal keluar investor asing yang cukup tinggi, terutama pada saham-saham unggulan. Pelemahan IHSG kali ini menjadi konfirmasi atas kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok global dan stabilitas ekonomi.

Meskipun pasar dibayangi oleh sentimen negatif, beberapa berita korporasi tetap menarik perhatian. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), misalnya, tetap berencana membagikan dividen sebesar Rp21,9 triliun atau Rp221 per saham untuk tahun buku 2025. Di sisi lain, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan respons terhadap penurunan cadangan devisa (cadev), berjanji untuk mencari solusi guna memperkuat kembali posisi tersebut.

Situasi pasar saat ini sangat bergantung pada perkembangan diplomasi internasional. Jika tensi di Timur Tengah tidak segera mereda dan dialog damai kembali menemukan momentumnya, tekanan terhadap IHSG dan nilai tukar Rupiah diprediksi akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Para pelaku pasar akan mencermati setiap perkembangan terbaru dari meja perundingan internasional, serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global dan regional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All