Tuesday, 11 August 2026
BREAKING
BERITA

Gubernur Bank Sentral Libya Mengundurkan Diri, Ekonomi Negara Terancam

Oleh Emanuel August 11, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Gubernur Bank Sentral Libya, Naji Issa, secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Selasa, 12 September 2023. Keputusan ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai stabilitas ekonomi Libya yang sudah rapuh, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi negara tersebut, termasuk belanja pemerintah yang membengkak dan penipisan cadangan devisa.

Pengunduran diri Issa, yang telah menjabat sejak September 2017, terjadi di saat Libya berjuang untuk mengatasi perpecahan politik dan dampak berkepanjangan dari konflik. Bank sentral memegang peran krusial dalam menjaga stabilitas moneter dan mengelola aset negara, sehingga kepergian pemimpinnya menimbulkan ketidakpastian besar.

Salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah pengelolaan belanja pemerintah yang terus meningkat. Angka terbaru menunjukkan bahwa belanja pemerintah Libya melonjak hingga 30,4 miliar dinar Libya pada paruh pertama tahun 2023. Angka ini jauh melebihi proyeksi awal dan menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan fiskal negara.

Selain itu, cadangan devisa Libya juga dilaporkan mengalami penurunan signifikan. Laporan yang dirilis pada akhir Agustus 2023 menunjukkan bahwa cadangan devisa Libya menyusut menjadi 60 miliar dolar AS dari 70 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya. Penurunan ini dapat mempengaruhi kemampuan negara untuk membiayai impor vital dan menjaga stabilitas nilai tukar dinar.

Naji Issa sendiri pernah menyuarakan keprihatinannya terkait situasi ekonomi negara. Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg pada awal September 2023, ia menyatakan, “Ada banyak tantangan yang harus kita hadapi. Ini bukan hanya tentang angka-angka, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa membangun kepercayaan dan stabilitas jangka panjang.” Pernyataannya tersebut kini menjadi semakin relevan dengan pengunduran dirinya.

Meskipun Issa tidak merinci alasan pasti pengunduran dirinya, para analis meyakini bahwa tekanan ekonomi yang semakin berat menjadi salah satu faktor utamanya. Kepergiannya diharapkan akan segera direspons oleh pemerintah sementara Libya dengan menunjuk pengganti yang kompeten untuk memimpin bank sentral dan meredakan kekhawatiran pasar.

Bagikan: Facebook X WhatsApp