Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas menjadi sorotan usai mencatatkan transaksi negosiasi fantastis senilai Rp 1,3 triliun. Peristiwa ini terjadi pada perdagangan di pasar negosiasi, menambah daftar panjang aksi korporasi yang melibatkan saham perusahaan tersebut.
Transaksi besar ini terjadi pada hari yang sama saat perseroan mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai kaitan antara kedua peristiwa tersebut, meskipun detail lebih lanjut mengenai pihak pembeli dan penjual dalam negosiasi jumbo ini belum terungkap secara rinci.
Manajemen PT Dian Swastatika Sentosa Tbk mengonfirmasi adanya transaksi negosiasi tersebut. “Benar, ada transaksi di pasar negosiasi sebesar Rp 1,3 triliun,” ujar Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, Hermawan Taufik, dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 12 Maret 2024.
Bersamaan dengan kabar transaksi negosiasi tersebut, DSSA juga mengumumkan rencana untuk melakukan buyback saham. Rencana ini akan dilaksanakan dalam jangka waktu 18 bulan sejak tanggal persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 26 Maret 2024. Anggaran maksimal yang disiapkan untuk program buyback ini adalah Rp 2 triliun.
Program buyback ini bertujuan untuk memberikan fleksibilitas kepada perseroan dalam mengelola struktur permodalan, sebagai antisipasi terhadap kewajiban pendanaan, serta untuk memberikan imbal hasil yang optimal kepada pemegang saham melalui peningkatan nilai saham.
Sebelumnya, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk telah menyelesaikan program buyback tahap pertama yang dimulai pada 29 September 2023 hingga 28 Maret 2024. Dalam program tahap pertama ini, perusahaan telah membeli kembali saham sebanyak 10.998.900 lembar dengan rata-rata harga Rp 4.108,53 per saham. Total nilai realisasi buyback tahap pertama mencapai Rp 45,17 miliar.
Dengan adanya transaksi negosiasi Rp 1,3 triliun ini, pergerakan saham DSSA diperkirakan akan terus menjadi perhatian pelaku pasar, terutama menjelang pelaksanaan RUPSLB dan dimulainya program buyback tahap kedua.
