Mengapa Anda Terus Mencari Pujian? Kenali Tanda ‘Haus Validasi’ yang Menggerogoti Kesehatan Mental

Emanuel

Banyak orang merasakan kebahagiaan saat mendapat apresiasi dan pengakuan dari lingkungan. Namun, ketika kebutuhan ini menjadi berlebihan hingga memengaruhi kebahagiaan dan pengambilan keputusan hidup, ini bisa jadi sinyal adanya ‘haus validasi’ yang perlu diwaspadai. Kondisi ini, jika dibiarkan, dapat berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang.

Shahida Arabi, seorang penulis buku "The Highly Sensitive Person’s Guide to Toxic People" dan peneliti di Harvard University, menjelaskan bahwa kebutuhan akan validasi adalah bagian alami dari interaksi sosial manusia. Namun, ketergantungan yang berlebihan pada pengakuan dari pihak luar berisiko mengikis rasa percaya diri dan memberikan pukulan telak bagi kesehatan mental.

Menurut Arabi, kebutuhan validasi dapat bersumber dari dua arah: internal dan eksternal. Validasi internal berarti kemampuan seseorang untuk menghargai pencapaian, perasaan, serta kekuatan diri sendiri. Sebaliknya, validasi eksternal datang dari orang lain, seperti teman, pasangan, atau rekan kerja, yang memberikan pengakuan atau pujian.

Permasalahan mulai muncul ketika seseorang terlalu menggantungkan rasa berharga dirinya pada validasi eksternal. Kondisi ini sering kali berakar dari pengalaman masa kecil, baik itu kurangnya perhatian dari orang tua maupun sebaliknya, menerima pujian yang berlebihan.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2016 mengindikasikan bahwa anak-anak yang menerima validasi emosional yang sehat dari orang tua mereka cenderung lebih mampu mengenali dan mengelola emosi. Sebaliknya, anak-anak yang tumbuh tanpa dukungan emosional yang memadai berisiko mengalami kesulitan dalam mempercayai orang lain, kecemasan yang berlebihan, ketakutan akan penolakan, atau menunjukkan pola perilaku yang tidak stabil.

Penelitian lain yang diterbitkan pada tahun 2015 menemukan temuan yang menarik, yaitu anak-anak yang terlalu sering dipuji justru berpotensi mengembangkan sifat narsistik, seperti merasa diri paling benar atau selalu mendambakan pengakuan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa dan memberikan pengaruh signifikan pada hubungan sosial serta perkembangan karier.

Kebutuhan validasi yang berlebihan dapat dikenali melalui beberapa tanda yang muncul dalam perilaku sehari-hari. Salah satu indikatornya adalah perasaan cemas berlebih jika tidak mendapatkan respons positif dari unggahan di media sosial, seperti jumlah suka atau komentar. Seseorang mungkin merasa perlu terus-menerus membagikan pencapaian atau momen penting dalam hidupnya, semata-mata untuk mendapatkan validasi dari pengikutnya.

Selain itu, sulitnya merasa puas dengan pencapaian diri sendiri juga menjadi ciri khas individu yang haus validasi. Meskipun telah meraih kesuksesan, mereka tetap merasa ada yang kurang jika tidak ada pujian atau pengakuan dari orang lain. Perasaan ini bisa sangat menguras energi dan membuat seseorang terus-menerus mencari validasi eksternal.

Perilaku lain yang patut diwaspadai adalah kecenderungan untuk selalu menyetujui pendapat orang lain demi menghindari konflik atau mendapatkan penerimaan. Individu yang haus validasi sering kali mengorbankan pendapat pribadinya demi menyenangkan orang lain, sehingga mereka kehilangan jati diri dan sulit menyatakan keinginan atau batasan diri.

Terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial, juga bisa menjadi tanda kebutuhan validasi yang tidak terpenuhi. Rasa iri dan keinginan untuk "menyamai" atau "melampaui" orang lain sering kali didorong oleh kebutuhan untuk merasa berharga.

Ketergantungan pada pujian untuk merasa berharga juga merupakan indikator kuat. Tanpa pujian, seseorang mungkin merasa tidak kompeten atau tidak bernilai, yang menunjukkan fondasi harga diri yang rapuh dan sangat bergantung pada opini eksternal.

Jika perilaku-perilaku ini terus berlanjut, seseorang berisiko kehilangan identitas diri dan menjadi sangat bergantung pada penilaian orang lain untuk merasa memiliki arti. Kondisi ini tentu saja tidak sehat dan dapat mengarah pada berbagai masalah kesehatan mental seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Shahida Arabi memberikan beberapa langkah praktis untuk mulai membangun validasi internal yang lebih kokoh. Pertama, melakukan refleksi mendalam terhadap pengalaman masa kecil. Penting untuk menyadari apakah ada kekurangan dukungan emosional atau pujian yang sehat di masa lalu. Cobalah untuk memberikan penghargaan pada diri sendiri atas hal-hal yang mungkin tidak pernah didapatkan sebelumnya.

Selanjutnya, menerapkan praktik self-care dan afirmasi positif dapat membantu mengendalikan emosi. Latihan seperti meditasi atau yoga terbukti efektif dalam menenangkan pikiran. Mengucapkan afirmasi positif seperti "Saya cukup" atau "Saya percaya diri" secara rutin dapat membantu menggantikan pola pikir negatif yang selama ini mendominasi.

Belajar mengatakan "tidak" juga merupakan keterampilan penting yang perlu diasah. Mulailah dari hal-hal kecil untuk membiasakan diri menolak permintaan tanpa merasa bersalah. Ini adalah langkah awal untuk membangun batasan diri yang sehat.

Membangun lingkaran dukungan yang sehat juga sangat krusial. Kelilingi diri dengan orang-orang yang menghargai Anda tanpa syarat. Sebaliknya, menjauhi orang-orang yang cenderung merendahkan atau selalu mengkritik dapat membantu melindungi kesehatan mental. Hentikan kebiasaan mencari pengakuan dari individu yang secara emosional tidak aman atau manipulatif.

Pada dasarnya, mencari validasi dari orang lain bukanlah hal yang sepenuhnya buruk, selama tetap dalam batas yang seimbang dengan penghargaan terhadap diri sendiri. Kesehatan mental yang optimal dimulai dari kemampuan untuk mengakui nilai dan pencapaian pribadi tanpa harus terus-menerus menunggu persetujuan dari orang lain.

Jika Anda merasa kesulitan untuk mengubah kebiasaan ini atau merasa terbebani oleh kebutuhan validasi yang berlebihan, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang sangat membantu. Mereka dapat membantu menemukan akar masalah yang mendasari dan membimbing Anda dalam membangun rasa percaya diri yang lebih sehat dan berkelanjutan. Memahami diri sendiri adalah kunci utama untuk keluar dari lingkaran haus validasi yang dapat menggerogoti kebahagiaan dan kedamaian batin.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All