Singapura – Perjalanan pebulu tangkis tunggal putri India, Unnati Hooda, di ajang Singapore Open 2026 harus terhenti lebih awal. Pemain berusia 18 tahun ini tersingkir di babak 32 besar setelah menelan kekalahan dua gim langsung dari wakil Jepang, Tomoka Miyazaki. Pertandingan yang berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026, ini menjadi penutup langkah Hooda di turnamen Super 750 yang bergengsi ini.
Unnati Hooda, yang sempat menunjukkan performa menjanjikan dan menembus peringkat 20 besar dunia BWF, kini menduduki ranking 22. Perjalanannya di Singapura ini menjadi ujian nyata bagi konsistensi permainannya di level tertinggi. Di babak ini, ia harus mengakui keunggulan Miyazaki yang tampil dominan, dengan skor akhir 14-21 dan 10-21 dalam waktu sekitar 32 menit. Kekalahan ini menjadi pukulan bagi Hooda yang datang ke turnamen dengan harapan besar, terlebih setelah ia berhasil mencatatkan peringkat karier terbaiknya di posisi 19 dunia, menjadikannya pemain putri aktif India tertinggi ketiga setelah PV Sindhu dan Saina Nehwal.
Sejak awal pertandingan, Tomoka Miyazaki, yang merupakan unggulan kesembilan dunia, berhasil mengendalikan tempo permainan. Pebulu tangkis Jepang ini menunjukkan penguasaan lapangan depan yang solid, dengan permainan net yang ketat. Strategi ini secara efektif memaksa Unnati Hooda untuk terus-menerus melakukan angkatan (lift), yang kemudian dimanfaatkan Miyazaki untuk membangun serangan dari tengah lapangan. Keunggulan Miyazaki di gim pertama, yang sempat mencapai 11-5, menunjukkan betapa besarnya kontrol yang ia miliki atas jalannya pertandingan.
Hooda terlihat kesulitan untuk keluar dari tekanan dan membangun pola serangannya sendiri. Salah satu aspek yang menjadi catatan penting adalah kontrol kedalaman pukulan lobnya. Pukulan-pukulan yang dilancarkan Hooda seringkali tidak mencapai garis belakang lapangan dengan sempurna, memberikan kesempatan bagi Miyazaki untuk masuk dan melancarkan serangan balasan. Variasi pukulan yang dilancarkan Miyazaki, mulai dari serangan tajam hingga drop shot yang mengecoh, terus-menerus mengganggu ritme permainan Hooda.
Meskipun Unnati Hooda berusaha merespons dengan meningkatkan intensitas serangannya, namun ia dinilai kurang memiliki variasi dalam pola serangannya. Sebagian besar smash yang dilancarkan cenderung dapat dibaca dengan mudah oleh Miyazaki. Pertahanan Miyazaki yang kokoh dan kemampuan serangan baliknya yang cepat membuat banyak reli berlangsung singkat. Penguasaan permainan Miyazaki yang lebih baik dalam membaca arah pukulan lawan menjadi kunci keunggulannya.
Memasuki gim kedua, tempo permainan semakin meningkat. Miyazaki tampil lebih cepat, termasuk dalam jeda antar poin, dan menambahkan elemen penipuan di depan net. Hal ini semakin menyulitkan Unnati Hooda untuk menemukan ritme permainannya. Pergerakan Hooda menjadi lebih reaktif dan seringkali terlambat merespons bola. Kesalahan-kesalahan pun mulai menumpuk, yang semakin memperlebar jarak skor.
Secara keseluruhan, Tomoka Miyazaki menunjukkan disiplin permainan dan kontrol yang lebih superior sepanjang pertandingan. Di sisi lain, Unnati Hooda terlihat terburu-buru dalam menyelesaikan poin, yang berujung pada inkonsistensi. Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Hooda, menyoroti pentingnya kesabaran, variasi pukulan, serta transisi pertahanan yang lebih baik saat berhadapan dengan pemain-pemain papan atas di level tertinggi bulu tangkis dunia.
Singapore Open 2026 merupakan salah satu dari tujuh turnamen BWF World Tour Super 1000 dan Super 750 yang diselenggarakan setiap tahunnya, menawarkan poin peringkat dunia yang signifikan dan hadiah uang yang besar. Turnamen ini menjadi panggung penting bagi para pebulu tangkis untuk mengukur kemampuan dan mengumpulkan poin menuju kualifikasi Olimpiade serta turnamen besar lainnya. Bagi Unnati Hooda, kegagalan di babak awal ini tentu menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan pembenahan diri, agar dapat kembali tampil lebih kuat di turnamen-turnamen selanjutnya.
Perjalanan karier Unnati Hooda sejauh ini menunjukkan potensi besar. Ia adalah salah satu talenta muda yang diharapkan dapat membawa nama India berjaya di kancah bulu tangkis internasional. Namun, seperti yang terlihat di Singapore Open 2026, transisi dari pemain muda potensial menjadi bintang papan atas dunia membutuhkan proses adaptasi dan kerja keras yang berkelanjutan. Pengalaman menghadapi pemain-pemain top seperti Tomoka Miyazaki ini, meskipun pahit, merupakan bagian tak terpisahkan dari pendakian menuju puncak. Para penggemar bulu tangkis India tentu berharap Hooda dapat segera bangkit dan kembali menunjukkan performa terbaiknya.











