Pilpres Kolombia: Ancaman Konflik Brutal Hantui Pemilih, Dua Kandidat Bertolak Belakang

Yohanes

Bogota – Ancaman kekerasan dan ketidakamanan yang berasal dari konflik internal berkepanjangan menjadi isu sentral yang mendominasi perhelatan pemilihan presiden Kolombia. Warga negara dihadapkan pada pilihan krusial antara dua visi yang berlawanan untuk mengatasi warisan pahit perang saudara yang telah berlangsung selama enam dekade, meninggalkan ratusan ribu korban jiwa.

Kisah pilu Edilma Martinez Flores, yang harus mengungsi dari rumahnya di pinggiran Cali bersama anak-anaknya setelah kelompok bersenjata mengancam akan membunuh saudaranya karena menolak membayar uang perlindungan, hanyalah secuil potret kelam yang dialami masyarakat Kolombia. Ancaman serupa juga dirasakan warga di daerah lain, di mana kelompok bersenjata ilegal secara terang-terangan menyebarkan selebaran yang memerintahkan penduduk untuk meninggalkan rumah mereka atau menghadapi kekerasan. Pemasangan bom di jalur-jalur utama transportasi semakin memperburuk ketakutan dan memaksa banyak orang meninggalkan harta benda mereka.

Situasi ini mencerminkan realitas pahit bahwa konflik internal Kolombia yang telah berlangsung selama puluhan tahun, melibatkan berbagai kelompok bersenjata, negara, dan kartel narkoba, justru mengalami eskalasi dalam beberapa tahun terakhir. Laporan menunjukkan bahwa keanggotaan kelompok bersenjata ilegal, termasuk faksi-faksi pembelot Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC), National Liberation Army (ELN), dan Clan del Golfo, telah meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Kelompok-kelompok ini kian memperluas cengkeraman mereka di wilayah pedesaan yang menjadi jalur strategis penyelundupan narkoba dan pertambangan ilegal.

Konflik brutal antara ELN dan kelompok pembelot FARC di dekat perbatasan Venezuela tahun lalu saja telah menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi. Serangan sporadis, pembunuhan, penculikan, dan pengeboman telah mewarnai gelaran kampanye pemilihan presiden kali ini, menciptakan iklim ketakutan yang meresap ke dalam benak para pemilih.

Di tengah ketegangan tersebut, dua kandidat utama menawarkan solusi yang sangat kontras. Senator sayap kiri Iván Cepeda, yang dianggap sebagai "arsitek" strategi "perdamaian total" Presiden Gustavo Petro saat ini, mengedepankan pendekatan negosiasi dengan kelompok-kelompok bersenjata. Pendukungnya berargumen bahwa strategi ini berhasil mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa, meskipun para kritikus menudingnya telah dimanfaatkan oleh kelompok bersenjata untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka selama periode gencatan senjata. Cepeda, yang juga berperan penting dalam kesepakatan damai 2016 yang melucuti senjata ribuan pejuang FARC, berjanji untuk melakukan "transformasi sosial yang sangat dibutuhkan negara" sambil tetap mengevaluasi dan memperbaiki strategi perdamaian yang ada.

Di sisi lain, penantangnya adalah seorang pengusaha dan pengacara konservatif, Abelardo de la Espriella, yang menjuluki dirinya "El Tigre" (Sang Harimau). Didukung oleh Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, de la Espriella menawarkan visi yang jauh lebih keras. Ia berjanji akan membangun sepuluh penjara mega, melancarkan tindakan militer yang tegas, dan menghentikan segala bentuk negosiasi dengan kelompok bersenjata. "Setiap kriminal yang tidak menyerah akan dihabisi," tegasnya. Pendukungnya, seperti Sandra Caballero dari desa di luar Barranquilla, memuji de la Espriella karena rencananya bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memberantas perdagangan narkoba dan tidak berencana untuk berdialog dengan para kriminal, langkah yang dinilainya tidak memberikan hasil dalam empat tahun terakhir. De la Espriella juga berencana mereformasi pajak untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan investasi di sektor keamanan dan kesehatan.

Bagi sebagian besar warga Kolombia, isu keamanan dan cara penanganannya akan sangat menentukan arah masa depan mereka. Isabelita Mercado Pineda, penasihat pemerintah untuk perdamaian, korban, dan rekonsiliasi di Bogota, mencatat lonjakan angka pengungsian paksa sebesar 300% antara tahun 2024 dan 2025. "Kami belum pernah melihat pengungsian sebesar ini dalam dua dekade terakhir," ujarnya, mengaitkan fenomena ini dengan peningkatan produksi kokain, kegagalan tentara mengisi kekosongan wilayah pasca-demobilisasi FARC pada 2016, dan strategi pemerintah yang dinilai terlalu lunak terhadap kelompok kriminal.

Pengalaman Erin Gamboa dari wilayah Chocó di Pantai Pasifik, yang saudara tirinya diculik oleh gerilyawan FARC dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi, menggambarkan betapa wilayahnya sangat diperebutkan oleh berbagai kelompok bersenjata yang bertikai demi menguasai situs penambangan ilegal dan jalur kokain. Pasangan lain yang memilih anonimitas menceritakan bagaimana bisnis pengiriman makanan mereka menjadi target pemerasan oleh seseorang yang mengaku dari FARC, yang menuntut uang dalam jumlah besar dari anak-anak mereka.

Dukungan Donald Trump terhadap de la Espriella, yang dikritik oleh kalangan kiri sebagai campur tangan asing, muncul di tengah sikap Amerika Serikat yang semakin intervensionis terhadap kelompok kriminal di Amerika Latin. Trump secara terbuka menyatakan bahwa hasil pemilihan ini akan menentukan hubungan Kolombia dengan AS, dan memuji de la Espriella sebagai sosok yang akan mendapatkan dukungan penuh dari negaranya, sementara melabeli Cepeda sebagai "Marxis radikal sayap kiri".

Meskipun demikian, kandidat sayap kiri, Iván Cepeda, memiliki basis pendukung yang kuat di kalangan pemilih muda. Catalina La Grande, seorang mahasiswa, meyakini bahwa proposal keamanan Cepeda tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga mengatasi akar struktural ketidakamanan seperti minimnya kehadiran negara, kemiskinan, dan ketidaksetaraan yang mendorong banyak pemuda bergabung dengan kelompok kriminal. "Kami tidak ingin mengulangi model keamanan pemerintah sebelumnya yang meninggalkan ribuan korban dan tidak menyelesaikan masalah. Kami percaya pada keamanan yang dinegosiasikan: kombinasi represi [terhadap kelompok bersenjata] dengan program sosial," jelasnya.

Di sebuah acara nonton bareng pertandingan pembuka Piala Dunia Kolombia melawan Uzbekistan, Sofia Diaz, pemilih muda lainnya, mengungkapkan harapan agar tim nasional dan Cepeda meraih kemenangan. Ia menyukai proposal Cepeda yang menolak fracking dan telah berjuang seumur hidup untuk negara. Sementara jalanan Bogota sempat dipenuhi sorak-sorai persatuan pasca kemenangan Kolombia, pemilihan presiden yang akan datang diperkirakan akan memecah belah negara yang tengah bergulat dengan bayang-bayang konflik brutal tersebut.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All