Apartemen Dibersihkan Gratis oleh AI, Warga New York Raup Untung Tapi Data Pribadi Terancam

Yohanes

Sebuah tawaran tak biasa kini menyapa warga New York City: layanan kebersihan dan koki pribadi gratis di rumah mereka. Namun, di balik kemurahan hati ini, tersimpan misi besar dari perusahaan kecerdasan buatan (AI) untuk mengumpulkan data demi melatih robot generasi mendatang. Setiap sudut apartemen direkam, menjadi saksi bisu pengembangan teknologi yang berpotensi mengubah cara kita hidup.

Inisiatif bernama Shift, yang digagas oleh perusahaan AI Micro AGI, bukanlah sekadar program promosi biasa. Ini adalah bagian dari upaya global untuk menciptakan robot otonom yang kelak mampu melakukan berbagai tugas rumah tangga, mulai dari mencuci piring hingga menjadi perawat pribadi. Di apartemen penulis di Upper East Side, New York, dua lulusan perguruan tinggi berusia pertengahan dua puluhan yang mencari pekerjaan disambut. Mereka adalah perwakilan dari tim cleaner yang dilengkapi kamera terintegrasi di topi mereka, terhubung ke ponsel pintar.

Tim Shift ditempatkan di New York secara permanen karena tingginya permintaan. Mereka melayani sekitar lima apartemen setiap hari, lima hari dalam seminggu. Perbedaan utama dengan petugas kebersihan konvensional adalah perlengkapan teknologi yang mereka kenakan. Kamera tersebut berfungsi untuk merekam setiap gerakan dan interaksi dengan objek di dalam rumah, dengan fokus utama pada tugas-tugas yang membutuhkan ketangkasan tangan. Data ini sangat krusial untuk melatih robot masa depan agar dapat meniru kemampuan manusia dalam manipulasi objek.

Bercan Kilic, pendiri Shift, menjelaskan bahwa tujuan pengumpulan data ini adalah untuk "memajukan kemanusiaan". Ia membandingkan dengan model AI seperti ChatGPT yang belajar dari teks di internet. Namun, dunia fisik jauh lebih kompleks. Setiap dapur, ruang tamu, dan perkakas memiliki keunikan tersendiri. Robot perlu dilatih untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dan menggunakan berbagai macam benda. Kilic menekankan bahwa tantangan terbesar adalah mengumpulkan "ton" data.

"Di dunia nyata, setiap objek berbeda, pencahayaan berbeda, dan tidak ada yang sama seperti beberapa jam sebelumnya. Model perlu belajar bagaimana tangan, kamera, dan lingkungan mereka bekerja sama," ujar Kilic. Model bisnis Shift sangat bergantung pada penjualan data berharga yang dikumpulkan dari dalam rumah tangga ini, setelah dianonimkan, kepada perusahaan robotik dan AI lainnya untuk tujuan pelatihan robot.

Ke depannya, Kilic memprediksi Shift dapat menawarkan layanan gratis atau bersubsidi untuk "keterampilan apa pun yang dapat didemonstrasikan manusia". Selain membersihkan apartemen di New York, perusahaan ini juga memiliki mekanik yang memperbaiki mobil di Turki. Ini menunjukkan ambisi Shift untuk merambah berbagai sektor yang membutuhkan keahlian manual.

Namun, tawaran menarik ini tidak luput dari sorotan para ahli privasi dan data. Mereka memperingatkan warga untuk berhati-hati dalam menukarkan data pribadi, terutama akses ke rumah, dengan layanan yang tampak gratis. Rory Mir, direktur Electronic Frontier Foundation, menyoroti tren yang mengkhawatirkan dari praktik "bayar untuk privasi" atau "suap data" oleh perusahaan.

"Meskipun mungkin datang dengan uang atau layanan di muka, data yang Anda bagikan bisa berbalik merugikan Anda. Bahkan jika Anda mempercayai bisnis yang mengumpulkannya, selalu ada risiko mereka membagikan informasi tersebut dengan bisnis lain atau pemerintah," kata Mir. Ia menambahkan bahwa data yang dibagikan berkontribusi pada "sistem yang mungkin tidak memprioritaskan kepentingan terbaik Anda".

Calli Schroeder, direktur program AI dan hak asasi manusia di Electronic Privacy Information Center (Epic), menyebut langkah Shift sebagai "cara yang sangat kreatif untuk menjual pelanggaran privasi". Ia khawatir teknologi yang dikembangkan dari data ini suatu saat dapat menggantikan peran manusia, termasuk para pembersih. Schroeder menekankan bahwa manfaat berupa pembersihan apartemen gratis adalah "sangat kecil" dibandingkan dengan potensi keuntungan dari kompilasi dan penjualan dataset yang berharga.

"Saya pikir orang secara luas meremehkan tingkat informasi sensitif yang dapat ditangkap oleh rekaman di dalam rumah," tegas Schroeder.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kilic menegaskan bahwa Shift adalah "platform paling jujur sejauh ini mengenai apa yang terjadi dengan data Anda". Ia mengkritik perusahaan internet dan media sosial yang mengumpulkan data pengguna tanpa sepengetahuan dan kompensasi yang jelas. "Layanan gratis berarti setidaknya Anda dibayar, dan sesederhana dan setransaksional itu," tambahnya.

"Jika Anda tidak ingin melakukannya, Anda tidak harus melakukannya. Kami tidak berharap semua orang menyukainya, dan itu tidak masalah," Kilic menambahkan.

Meskipun beberapa pihak menyuarakan keprihatinan mendalam tentang implikasi privasi, yang lain justru antusias untuk menjadi bagian dari revolusi AI. Para petugas kebersihan Shift sendiri mengungkapkan keyakinan bahwa AI akan secara dramatis mengubah dunia kerja. Mereka yang merangkul teknologi sejak dini, menurut mereka, tidak perlu takut. Bahkan, salah satu petugas telah mengirimkan perlengkapan perekaman ke ibunya di rumah agar dapat merekam aktivitas sehari-hari dari sudut pandangnya.

Meskipun dibayar di atas tarif standar untuk petugas kebersihan di New York, tim Shift yang terdiri dari generasi Z tampak benar-benar bersemangat menjadi bagian dari lonjakan AI, bahkan jika itu berarti mereka harus bekerja keras membersihkan apartemen demi apartemen di kota metropolitan itu. Kisah Shift ini membuka diskusi penting tentang keseimbangan antara kemajuan teknologi, manfaat ekonomi, dan perlindungan privasi individu di era digital yang semakin kompleks.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All