Toy Story 5 Rilis, Kritikus Terbelah: Antara Nostalgia dan Pertanyaan Eksistensial Mainan

Wibowo

Sekuel terbaru dari waralaba animasi legendaris Pixar, "Toy Story 5", resmi diluncurkan dan langsung memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat film global. Ulasan yang beredar menunjukkan pandangan beragam, menyoroti pergeseran tema dari era analog ke digital, serta mempertanyakan relevansi cerita mainan klasik di tengah perkembangan teknologi modern. Sekuel ini dilaporkan mengangkat dinamika mainan tradisional yang harus beradaptasi dengan gempuran gawai dan tren digital melalui karakter baru bernama Lilypad.

Para kritikus menyoroti kedalaman tema yang diangkat oleh "Toy Story 5". Manohla Dargis, Pengamat Film Senior dari The New York Times, menggarisbawahi beberapa elemen kunci seperti "play, individuality, obsolescence, consumerism". Ia merasakan jejak waktu yang semakin nyata, tidak hanya pada fisik mainan, tetapi juga pada perubahan suara para pengisi suara legendaris yang telah mendampingi karakter-karakter ini sejak era 1990-an. "While time has only lightly scuffed the toys themselves over these many years, you can hear its passing in the voices of the performers," ujar Dargis. Meskipun demikian, Dargis berpendapat bahwa waralaba ini mungkin telah mencapai titik maksimal dalam pengembangan ceritanya. Ia menyarankan, "It’s fine, pretty and amusing, but if no one’s heart seems in it, perhaps it’s time to make way for other toys," mengindikasikan potensi kejenuhan naratif.

Namun, tidak semua pandangan sejalan dengan Dargis. Kritikus film lain justru menemukan ruang emosional yang mendalam, terutama dalam kepemimpinan karakter lama. David Rooney, Kritikus Film dari The Hollywood Reporter, memberikan apresiasi khusus pada fokus cerita yang menempatkan Jessie, yang kembali disuarakan oleh Joan Cusack, di garis depan. Rooney memuji Cusack yang kembali ke dunia perfilman setelah masa pensiun semi-aktif, membawa kehangatan, semangat pantang menyerah, dan kerentanan yang menyentuh dalam penampilan vokalnya.

Sementara itu, Owen Gleiberman, Kritikus Film dari Variety, melihat "Toy Story 5" sebagai eksplorasi pesan psikologis yang mendalam mengenai pentingnya permainan imajinatif bagi anak-anak. Ia menekankan bahwa permainan imajinatif bukan sekadar aktivitas, melainkan sebuah dimensi penuh yang memungkinkan anak-anak mewujudkan alam semesta dalam kepala mereka ke dunia nyata. "What ‘Toy Story 5’ is talking about is what’s known as imaginative play, and that’s not just an activity. It’s a whole dimension, a way for kids to take the universe that’s in their heads and extend it out into the world," tulis Gleiberman. Ia juga menyoroti relevansi pesan ini di era digital yang serba cepat, di mana interaksi virtual mendominasi. "How will kids connect to each other in an era that wants them to grow up too fast by virtualizing themselves?" tanyanya. Gleiberman menyimpulkan bahwa Pixar kembali menghadirkan kenyamanan bermain melalui petualangan Woody dan kawan-kawan, dengan esensi bahwa "The fun you take is equal to the fun you make."

Namun, pandangan kritis yang lebih tajam datang dari media Inggris. Kritikus film dari The Guardian, Bradshaw, melayangkan kritik keras terhadap penurunan drastis dalam aspek ketegangan cerita. Menurutnya, meskipun film ini memiliki tampilan luar yang modern dan mengkilap layaknya gawai baru, esensinya terasa hampa. "As a piece of family-entertainment content it has the unblemished sheen of a brand new smartphone. But at heart, it has gone dead," tulis Bradshaw. Ia berpendapat bahwa alur cerita yang keluar dari pakem rahasia kehidupan mainan justru membuat narasi menjadi terlalu rumit dan kehilangan pesona asli waralaba ini. "The jeopardy, the novelty, the ideas and the passion are lacking; the crucial Toy Story theme of mortality feels underpowered, and the film even calamitously loses its nerve with its own big idea," kritik Bradshaw, merujuk pada hilangnya elemen ketegangan dan keberanian dalam penyampaian ide inti.

Di sisi lain, David Ehrlich, Kritikus Film dari IndieWire, memberikan pujian atas ketajaman isu teknologi yang diangkat, meskipun ia merasa peran karakter utama pria, Woody, terasa sedikit dipaksakan. "The series is only getting sharper with age," ujar Ehrlich, yang juga mengapresiasi performa pengisi suara baru. Namun, ia merasa porsi karakter koboi ikonik tersebut kurang dieksekusi secara natural seiring dengan status barunya dalam tim. "Woody’s superfluousness to the plot reflects his growing comfort with irrelevance, but that argument would carry more weight if this movie didn’t try so hard to return him to his former stature. Tom Hanks isn’t above a supporting role, but this franchise isn’t totally comfortable with him playing one yet," jelas Ehrlich. Meskipun mengkritik beberapa bagian naskah yang dinilai kurang matang, Ehrlich tetap mengagumi pesan akhir film mengenai ketulusan kasih sayang. "This movie knows that life is never sweeter than it is during the moments, and years, when we simply can’t accept that love is also made out of plastic," pungkasnya, merujuk pada material mainan yang melambangkan ikatan emosional yang tulus.

"Toy Story 5" tampaknya berhasil memecah belah para penikmat film dan kritikus, memunculkan kembali perdebatan tentang bagaimana cerita klasik beradaptasi dengan zaman baru, serta merenungkan kembali makna penting permainan dan koneksi emosional di era digital yang terus berkembang pesat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All