Jakarta – Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati nota kesepahaman (MoU) yang menjadi kerangka kerja perdamaian kedua negara. Penandatanganan dilakukan secara terpisah oleh Presiden AS Donald Trump di Prancis dalam sela pertemuan puncak G7, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran. Perbedaan nada saat penandatanganan, Trump menyebut kesepakatan ini "tidak mudah" sementara Pezeshkian membanggakannya sebagai "cerminan suara suatu bangsa yang tak menukar kehormatan dan kemerdekaannya dengan cara apa pun," mengindikasikan adanya ketidakseimbangan kekuatan dalam perjanjian tersebut.
MoU ini secara umum menunjukkan Iran berada di posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan Amerika Serikat. Berbagai poin dalam kesepakatan tersebut mengindikasikan AS terlihat melemah, sementara Iran mendapatkan keuntungan signifikan di berbagai bidang krusial. Latar belakang kesepakatan ini muncul setelah periode ketegangan tinggi yang melibatkan serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
Gagal Ganti Rezim, AS Justru Legitimasi Kekuasaan Iran
Salah satu poin krusial yang menunjukkan keunggulan Iran adalah kegagalan upaya penggantian rezim di Teheran. Amerika Serikat dan Israel sebelumnya optimis bahwa rezim ulama Iran yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979 dapat digulingkan. Serangan yang dilancarkan pada 28 Februari lalu memang berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta sebagian besar keluarganya.
Namun, di luar dugaan AS dan Israel, putra Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei, berhasil selamat. Ia kemudian dipilih secara mufakat untuk menggantikan ayahnya, sebuah langkah cepat yang mengukuhkan kelangsungan kekuasaan rezim yang ada. Peneliti senior di Institut Studi Keamanan Nasional Israel, Danny Citinowicz, menilai bahwa serangan tersebut justru memperkuat rezim Iran.
"Kita berupaya menggulingkan rezim tersebut dengan dukungan AS, tetapi pada akhirnya Washington justru memberikan legitimasi dan memperkuat rezim yang sama yang ingin kita jatuhkan," ujar Citrinowicz, seperti dikutip Al Monitor. Legitimasi ini tercermin dalam poin kedua MoU yang menegaskan penghormatan timbal balik terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, serta larangan campur tangan dalam urusan internal masing-masing negara.
Program Rudal dan Dukungan Iran Tetap Kokoh
Di sektor pertahanan, Iran meraih kemenangan telak. Program rudal balistik Iran yang selama ini menjadi perhatian utama AS dan Israel, sama sekali tidak disinggung dalam MoU. Kesepakatan hanya berfokus pada program nuklir Iran, di mana Teheran sepakat untuk tidak memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir.
Presiden Trump sendiri menyatakan bahwa AS tidak mempermasalahkan Iran memiliki rudal balistik, selama jumlahnya masih dalam batas wajar. "Jika negara lain punya, agak tidak adil bagi mereka [Iran] jika tidak punya juga," ucap Trump, mengindikasikan perubahan sikap AS terhadap kekuatan militer Iran.
Selain itu, sekutu utama Iran, kelompok milisi Hizbullah Lebanon, juga mendapatkan perlindungan dalam kesepakatan ini. Poin pertama MoU menekankan penghentian perang di semua front, termasuk di Lebanon, dan menegaskan perlindungan terhadap sekutu masing-masing. Hal ini berarti Israel dilarang mengusik aktivitas Hizbullah. Jurnalis senior dan pemerhati politik Israel, Ben Dror Yemini, menyebut MoU ini sebagai "kemenangan politik" bagi Iran.
Pencabutan Sanksi dan Pencairan Dana Menjadi Kunci
Salah satu keuntungan terbesar bagi Iran adalah pencabutan berbagai sanksi ekonomi yang selama ini membelenggu negara tersebut. Poin ketujuh MoU secara eksplisit menyatakan komitmen AS untuk mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran. Ini mencakup resolusi Dewan Keamanan PBB, resolusi Dewan Gubernur IAEA, serta seluruh sanksi unilateral AS, baik primer maupun sekunder. Pencabutan sanksi ini akan dilakukan sesuai jadwal yang disepakati dalam perjanjian final.
Lebih lanjut, dalam poin ke-11, AS setuju untuk sepenuhnya mencairkan dana dan aset Iran yang selama ini dibekukan atau dibatasi. Prosedur pelepasan dana ini akan dibahas lebih lanjut dalam perundingan 60 hari ke depan. AS berjanji akan menerbitkan seluruh lisensi dan otorisasi yang diperlukan untuk memfasilitasi proses ini.
Kompensasi Triliunan Rupiah untuk Rekonstruksi
Kemenangan signifikan lainnya bagi Iran terlihat pada poin keenam MoU, di mana AS bersedia memberikan kompensasi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.400 triliun. Dana ini diperuntukkan bagi rekonstruksi kerusakan yang ditimbulkan selama perang. Kompensasi ini akan diberikan bersama mitra regional. Mekanisme pelaksanaan rencana ini akan dirampungkan dalam kesepakatan akhir yang ditargetkan selesai dalam 60 hari mendatang.
Setelah penandatanganan MoU, kedua negara masih memiliki waktu 60 hari untuk merumuskan kesepakatan akhir yang lebih rinci. Periode negosiasi ini akan menjadi penentu bagaimana perjanjian perdamaian ini akan diimplementasikan dan bagaimana tatanan regional di Timur Tengah akan berubah pasca-kesepakatan ini.











