Komandan Batalion Lapis Baja Israel Tewas dalam Bentrokan Sengit di Lebanon Selatan

Heni Maulidya

Letnan Kolonel Dor Gedalia Ben Simhon, komandan Batalion Ke-52 dari Brigade Lapis Baja Ke-401 Angkatan Bersenjata Israel, dilaporkan tewas dalam pertempuran di wilayah selatan Lebanon pada Jumat (19/6). Kematian Ben Simhon, yang berusia 32 tahun, terjadi ketika tank yang dikemudikannya menjadi sasaran dalam operasi militer, menewaskan tiga tentara lainnya yang berada di dalam kendaraan tempur tersebut. Insiden ini menambah daftar panjang pergantian komando di batalion tersebut sejak perang Israel di Gaza dan Lebanon dimulai.

Menurut laporan dari The Times of Israel, Ben Simhon merupakan komandan keempat dari Batalion Ke-52 yang gugur atau mengalami luka serius sejak konflik berkecamuk. Tingginya angka korban di kalangan komandan unit ini mengindikasikan intensitas pertempuran yang dihadapi oleh pasukan Israel di front Lebanon. Situasi ini bahkan memaksa militer Israel untuk memanggil kembali mantan komandan, Daniel Ela, untuk bertugas sementara di Lebanon selatan pada April lalu, setelah komandan sebelumnya mengalami luka.

Kisah Daniel Ela sendiri mencerminkan ketidakstabilan komando di Batalion Ke-52. Ela sempat terluka di Gaza pada Juli 2024 saat memimpin batalionnya. Ia kemudian digantikan oleh Letnan Kolonel Yehuda Shalev, yang juga dilaporkan menderita luka serius pada Oktober tahun yang sama. Bahkan, komandan yang mengambil alih tugas setelah Shalev pun dilaporkan mengalami cedera sebelum Ben Simhon akhirnya menjabat. Saluran 14 Israel sempat memberitakan bahwa Ela telah memimpin batalion tersebut dalam tiga kesempatan berbeda sejak Oktober 2023, menunjukkan dinamika komando yang sangat fluktuatif.

Tragedi yang menimpa Batalion Ke-52 tidak hanya terbatas pada pertempuran di garis depan. Unit ini sebelumnya juga menjadi sorotan internasional akibat keterlibatannya dalam dugaan pembunuhan seorang gadis Palestina berusia enam tahun bernama Hind Rajab di Jalur Gaza. Rajab dilaporkan meninggal pada Januari 2024 setelah kendaraan yang ditumpanginya bersama beberapa kerabat diserang oleh pasukan Israel di Kota Gaza.

Catatan kejadian menyebutkan bahwa Hind Rajab sempat selamat dari serangan awal dan terjebak di dalam mobil, sambil berkomunikasi dengan petugas layanan darurat melalui telepon. Upaya penyelamatan melalui ambulans yang dikirimkan justru berujung tragis ketika kendaraan medis tersebut juga menjadi sasaran tembak, merenggut nyawa paramedis yang bertugas. Jenazah Rajab baru ditemukan 12 hari kemudian.

Dampak dari insiden Hind Rajab terus bergulir hingga ranah hukum internasional. Pada Mei 2025, Yayasan Hind Rajab yang berbasis di Belgia mengajukan pengaduan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Pengaduan tersebut ditujukan kepada Daniel Ela, mantan komandan Batalion Ke-52, dan Kolonel Beni Aharon, komandan Brigade Lapis Baja Ke-401, atas tuduhan kejahatan perang terkait kematian Rajab, anggota keluarganya, dan awak ambulans. Investigasi yang dilakukan oleh Al Jazeera pada Oktober tahun lalu juga mengidentifikasi Ela dan Aharon sebagai perwira Israel yang diduga terlibat dalam insiden memilukan tersebut.

Kematian Hind Rajab menjadi salah satu kasus yang paling banyak didokumentasikan sebagai bagian dari dugaan genosida yang dilancarkan Israel di Gaza sejak Oktober 2023. Data dari pihak Palestina menunjukkan bahwa serangan tersebut telah merenggut lebih dari 73.000 jiwa warga Palestina dan melukai lebih dari 173.000 lainnya. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, sementara infrastruktur sipil di wilayah tersebut mengalami kerusakan parah.

Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025, laporan dari lapangan menunjukkan bahwa serangan dan pembatasan yang diberlakukan oleh Israel terus berlanjut. Situasi ini dilaporkan telah menyebabkan kematian lebih dari 1.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 3.100 lainnya sejak kesepakatan gencatan senjata mulai dijalankan. Konflik yang terus berlanjut di berbagai front, termasuk Lebanon selatan, menandakan eskalasi ketegangan regional yang semakin mengkhawatirkan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All