Washington D.C. – Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat memamerkan pesawat kepresidenan baru, Air Force One, yang kini berpenampilan baru dan lebih mewah. Pesawat yang dijuluki sebagai yang paling mewah di dunia ini merupakan hadiah tak terduga dari Qatar, yang proses penerimaannya sendiri menuai berbagai pertanyaan etis, hukum, dan keamanan nasional. Trump, yang dikenal memiliki selera desain yang khas, merasa puas dengan perubahan total pada estetika pesawat yang akan menjadi representasi dirinya selama masa jabatannya.
Pesawat baru ini tampil beda dengan skema warna biru telur robin yang telah lama menjadi ciri khas Air Force One sejak era Jacqueline Kennedy. Trump memilih kombinasi biru tua dan putih yang dipercantik dengan garis-garis merah, serta bendera Amerika Serikat di ekor pesawat yang kini tampak lebih "longgar" dengan lekukan yang ia sebut lebih dinamis. "Kami menambahkan gelombang di dalamnya," ujar Trump, menjelaskan perbedaannya dengan bentuk lurus dan tipis yang ia akui tidak pernah disukainya. Transformasi ini, menurut pengamat, sangat mirip dengan jet pribadi yang telah lama digunakan oleh Trump, menunjukkan preferensi desain pribadinya yang kini terwujud pada salah satu simbol paling ikonik Amerika Serikat.
Di Pangkalan Gabungan Andrews pada Jumat (19/6), Trump menggambarkan pesawat barunya sebagai cerminan seleranya yang dirancang dengan baik. Ia menyoroti panel kayu berkualitas tinggi dan detail bendera yang berkibar sempurna di ekor pesawat. Interior pesawat ini juga tidak kalah mewah, dengan dinding dan karpet berwarna krem, serta lampu-lampu berwarna emas. Para wartawan yang sempat melihat langsung melaporkan adanya kursi kulit yang dapat direbahkan sepenuhnya, menambah kesan eksklusif dan nyaman.
Kehadiran pesawat baru ini sebenarnya merupakan solusi darurat atas keterlambatan produksi dua pesawat Boeing 747-200 baru yang dipesan pemerintah AS. Pesawat-pesawat yang sedang dimodifikasi ini diperkirakan baru akan selesai dalam waktu sekitar dua tahun, sebuah penundaan yang membuat Trump frustrasi, terutama karena kekhawatiran tidak akan rampung sebelum masa jabatannya berakhir pada tahun 2029. Di tengah kegelisahan tersebut, Qatar menawarkan sebuah jet baru yang kemudian disumbangkan ke Pentagon tahun lalu.
Meski Gedung Putih kemudian menghadapi kritik terkait penerimaan hadiah bernilai fantastis senilai USD 400 juta dari negara asing, Angkatan Udara AS tetap bergerak cepat untuk mempersiapkan pesawat tersebut agar siap digunakan oleh Presiden. Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, mengonfirmasi bahwa penerimaan Boeing 747 dari Qatar telah sesuai dengan aturan dan peraturan federal yang berlaku, meskipun nilai hibah tersebut melampaui batas yang diizinkan dalam beberapa regulasi.
Namun, di balik kemewahan dan kegembiraan Trump, muncul fakta lain yang menambah kompleksitas cerita ini. Biaya renovasi pesawat baru tersebut dilaporkan mencapai USD 1 miliar. Angka ini belum termasuk biaya kedua pesawat Boeing Kepresidenan yang pengirimannya tertunda hingga 2027 dan 2028. Biaya pembuatan kedua pesawat yang dibuat khusus tersebut bahkan telah membengkak dari USD 3,7 miliar menjadi USD 5 miliar. Trump sendiri mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Emir Qatar, yang ia sebut sebagai "orang yang fantastis", atas kemurahan hatinya.
Pesawat baru ini diharapkan dapat segera digunakan oleh Trump untuk berbagai agenda kenegaraan. Ia bahkan berharap dapat menerbangkan pesawat baru tersebut ke Mount Rushmore menjelang perayaan 4 Juli, bertepatan dengan hari ulang tahun ke-250 Amerika Serikat. Trump juga berkeinginan melihat pesawat kebanggaannya terbang di atas Gedung Capitol AS pada momen bersejarah tersebut. Namun, kontroversi terkait penerimaan hadiah dari Qatar dan tingginya biaya yang dikeluarkan untuk renovasi pesawat ini kemungkinan akan terus menjadi sorotan publik dan menjadi perdebatan dalam ranah etika kenegaraan.











