Presiden Prabowo Subianto menyoroti keberadaan kelompok yang disebutnya “Londo Ireng”, mengindikasikan bahwa ancaman dari entitas tersebut masih relevan hingga saat ini. Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada acara Puncak Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Menurut Prabowo, “Londo Ireng” bukanlah sekadar istilah sejarah, melainkan sebuah fenomena yang ia yakini masih memiliki pengaruh. Ia tidak merinci secara spesifik siapa atau apa yang dimaksud dengan “Londo Ireng” dalam konteks modern, namun pernyataannya mengundang perhatian mengenai potensi ancaman yang belum sepenuhnya hilang.
Istilah “Londo Ireng” sendiri merujuk pada kelompok pribumi yang bekerja sama dengan penjajah Belanda pada masa kolonial. Mereka seringkali bertindak sebagai kaki tangan Belanda dalam menindas rakyat pribumi lainnya. Keberadaan mereka dianggap sebagai pengkhianatan terhadap bangsa sendiri demi keuntungan pribadi atau kelompok.
Prabowo, yang juga merupakan Menteri Pertahanan, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap segala bentuk ancaman, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. Pernyataannya mengenai “Londo Ireng” dapat diartikan sebagai sebuah peringatan agar masyarakat tidak lengah dan terus menjaga kedaulatan bangsa dari potensi gangguan.
Lebih lanjut, Prabowo mengaitkan isu ini dengan pentingnya persatuan dan kesadaran nasional. Ia berulang kali menekankan agar bangsa Indonesia tidak mudah dipecah belah oleh pihak manapun. Pidatonya di hadapan para kader PKB ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat juang dan kesadaran akan pentingnya menjaga keutuhan NKRI.
Pentingnya menjaga kedaulatan dan melawan segala bentuk penjajahan, baik secara fisik maupun non-fisik, menjadi pesan utama yang ingin disampaikan oleh Presiden Prabowo. Penggunaan istilah “Londo Ireng” sebagai pengingat historis menjadi cara untuk mengilustrasikan bahwa ancaman terhadap bangsa dapat datang dalam berbagai bentuk dan memerlukan kewaspadaan berkelanjutan.
