Xi Jinping Sambut Min Aung Hlaing di Beijing: Perkuat Kemitraan Strategis dan Bidik Kerja Sama Ekonomi

Yohanes

Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan kenegaraan dengan Presiden Myanmar Min Aung Hlaing di Beijing pada Selasa, 16 Juni 2026. Kunjungan resmi ini bertujuan untuk mempererat hubungan bilateral dan memperdalam kerja sama strategis komprehensif antara kedua negara bertetangga yang memiliki ikatan historis kuat. Kunjungan Min Aung Hlaing yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari, dari 15 hingga 19 Juni 2026, menandai lawatan pertamanya ke Tiongkok pasca-pemilu Myanmar pada Desember 2025 dan Januari 2026.

Pertemuan yang berlangsung di Aula Besar Rakyat (Great Hall of the People) ini menjadi sorotan penting dalam dinamika regional. Xi Jinping dalam pernyataannya menegaskan komitmen China untuk terus memperkuat kemitraan strategis dengan Myanmar. "Saya akan terus memperkuat kepemimpinan kami atas hubungan bilateral, meneruskan persahabatan persaudaraan antara kedua bangsa, serta memperdalam kerja sama strategis yang komprehensif," ujar Xi Jinping, seperti dikutip media pemerintah China, CCTV. Pernyataan ini mengindikasikan dukungan kuat Beijing terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh Min Aung Hlaing, yang sebelumnya menjabat sebagai panglima militer dan secara resmi dilantik menjadi presiden sipil pada April 2026.

Kunjungan Min Aung Hlaing ke Beijing ini memiliki bobot diplomatik yang signifikan, terutama mengingat posisinya yang baru sebagai presiden sipil setelah memimpin Myanmar sebagai panglima militer selama lima tahun. Sejumlah pengamat demokrasi memang melihat transisi ini lebih sebagai pergantian label ketimbang perubahan fundamental dalam lanskap politik Myanmar, namun dukungan dari Tiongkok sebagai kekuatan regional memberikan legitimasi penting bagi pemerintahannya.

Sebelum dimulainya pembicaraan tertutup yang berlangsung kurang dari satu jam, upacara penyambutan kenegaraan dengan karpet merah telah disiapkan untuk menyambut rombongan dari Myanmar. Momentum ini menjadi landasan bagi penandatanganan sejumlah dokumen kerja sama penting. Xinhua melaporkan bahwa sebanyak 18 nota kesepahaman (MoU) berhasil disepakati oleh kedua belah pihak, mencakup berbagai sektor strategis.

MoU tersebut mencakup kerja sama di sektor transportasi, khususnya terkait lintas batas di kawasan Subwilayah Mekong Raya (Greater Mekong Subregion). Sektor ekonomi juga menjadi fokus utama, dengan kesepakatan mengenai perdagangan bebas dan investasi strategis. Selain itu, kerja sama di bidang sosial dan kesehatan meliputi bantuan penanggulangan bencana alam dan peningkatan pelayanan kesehatan. Sektor komunikasi pun tak luput dari perhatian, dengan adanya kerja sama di bidang media massa.

Di luar agenda politik dan diplomatik, Min Aung Hlaing juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Beijing Aerospace City. Kunjungan ini memberikan gambaran langsung mengenai kemajuan program antariksa Tiongkok, menunjukkan minat Myanmar terhadap kemajuan teknologi dan inovasi negara Tirai Bambu tersebut.

Agenda kunjungan Min Aung Hlaing tidak berhenti pada pertemuan dengan Presiden Xi Jinping. Ia dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan terpisah dengan Perdana Menteri China Li Qiang dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China Zhao Leji pada tanggal 17 hingga 19 Juni 2026. Pertemuan-pertemuan ini semakin memperkuat konsolidasi hubungan di berbagai tingkatan pemerintahan.

China memegang peranan krusial sebagai mitra asing utama bagi Myanmar, terutama setelah kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi pada Februari 2021. Situasi politik domestik Myanmar yang diwarnai konflik bersenjata berkepanjangan menjadikan stabilitas menjadi prioritas utama. Kementerian Luar Negeri China secara tegas menyatakan dukungan penuhnya terhadap stabilitas politik domestik di Myanmar, dengan harapan dapat menyatukan kembali seluruh kekuatan politik yang ada di negara tersebut.

Secara ekonomi, kepentingan China di Myanmar sangat besar, terutama melalui program Belt and Road Initiative (BRI). Jaringan pipa minyak dan gas yang melintasi Myanmar, serta rencana pembangunan pelabuhan laut dalam, merupakan bukti nyata dari investasi strategis Tiongkok di negara tersebut. Kerja sama ini tidak hanya menguntungkan Tiongkok dari segi akses sumber daya dan jalur perdagangan, tetapi juga berpotensi membawa pembangunan infrastruktur bagi Myanmar.

Pertemuan antara Xi Jinping dan Min Aung Hlaing kali ini merupakan momen kedua mereka dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Sebelumnya, kedua pemimpin bertemu di KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin. Meskipun India menjadi negara pertama yang dikunjungi Min Aung Hlaing setelah menjabat sebagai presiden, para analis menilai kunjungan ke China ini memiliki bobot yang lebih besar dalam upaya meningkatkan penerimaan internasional terhadap pemerintahannya yang baru. Dukungan dari Beijing dianggap sebagai langkah strategis yang signifikan dalam memposisikan Myanmar di panggung global.

Dengan penandatanganan 18 MoU dan komitmen penguatan kerja sama strategis, pertemuan di Beijing ini membuka babak baru dalam hubungan bilateral China-Myanmar. Fokus pada infrastruktur, ekonomi, serta kerja sama di bidang lain diharapkan dapat membawa dampak positif bagi kedua negara, sambil terus memantau perkembangan situasi politik dan sosial di Myanmar. Kunjungan ini menegaskan kembali peran penting Tiongkok dalam memengaruhi lanskap politik dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All