Performa Internet Indonesia Merosot di Mei 2026, Peringkat Global dan Regional Turun Drastis

Yohanes

Konektivitas digital Indonesia kembali menghadapi sorotan tajam. Data terbaru dari Speedtest Global Index yang dirilis oleh Ookla pada Sabtu, 20 Juni 2026, mengungkap tren penurunan signifikan pada kecepatan internet, baik untuk kategori mobile maupun fixed broadband. Penurunan ini tidak hanya memengaruhi posisi Indonesia di kancah global, tetapi juga memperlebar jurang persaingan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Menurut laporan yang mencakup periode Mei 2026, kecepatan internet mobile di Indonesia rata-rata mencapai 62,54 Mbps. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-74 dari 101 negara yang dinilai secara global. Posisi ini merupakan penurunan empat anak tangga dibandingkan bulan sebelumnya, April 2026, yang menunjukkan adanya perlambatan performa koneksi nirkabel.

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih tertahan di papan tengah, hanya mampu mengungguli Filipina dan Laos dalam kategori internet mobile. Performa ini kontras dengan rata-rata kecepatan unduh mobile global yang dilaporkan Ookla mencapai 113,16 Mbps. Angka global ini juga didukung oleh kecepatan unggah rata-rata 15,07 Mbps dan latensi 23 ms, yang menunjukkan standar konektivitas yang lebih tinggi di tingkat dunia.

Perbandingan data menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar. Brunei Darussalam memimpin di Asia Tenggara dengan kecepatan mobile 254,20 Mbps, menempatkannya di peringkat keenam global. Diikuti oleh Vietnam di peringkat kesembilan global dengan 210,85 Mbps, dan Singapura di peringkat ke-15 dengan 183,40 Mbps. Negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand, dan Kamboja juga menunjukkan performa yang jauh melampaui Indonesia.

Sektor fixed broadband atau internet kabel tetap turut mengalami nasib serupa. Peringkat Indonesia anjlok dari urutan ke-114 menjadi ke-117 dari total 149 negara yang terdata. Kecepatan rata-rata fixed broadband di Indonesia tercatat sebesar 47,10 Mbps. Penurunan ini semakin mempertegas tantangan dalam menyediakan infrastruktur internet kabel yang mumpuni.

Secara regional Asia Tenggara, performa fixed broadband Indonesia berada di posisi bawah, hanya lebih baik dari Myanmar. Menariknya, Filipina dan Laos yang sebelumnya tertinggal dalam kategori mobile, kini justru menunjukkan performa yang lebih baik di sektor fixed broadband. Hal ini mengindikasikan adanya fokus atau perkembangan yang berbeda di masing-masing negara dalam mengembangkan infrastruktur digital.

Standar global untuk fixed broadband sendiri sudah jauh melampaui capaian Indonesia. Kecepatan unduh rata-rata global untuk fixed broadband dilaporkan mencapai 125,47 Mbps, dengan kecepatan unggah 62,91 Mbps, dan latensi yang sangat rendah, yaitu 8 ms. Kesenjangan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan.

Dalam perbandingan regional Asia Tenggara untuk fixed broadband, Singapura kembali memimpin dengan kecepatan luar biasa 440,49 Mbps, menempatkannya di peringkat kedua global. Vietnam menyusul di peringkat ke-12 global dengan 291,82 Mbps, diikuti Thailand di peringkat ke-14 dengan 286,11 Mbps. Malaysia, Filipina, Brunei, dan Laos juga berada di atas Indonesia dalam peringkat global maupun regional.

Penurunan peringkat ini menjadi refleksi penting bagi upaya pengembangan infrastruktur dan kualitas layanan internet di Indonesia. Tantangan ini tidak hanya berkaitan dengan kecepatan unduh dan unggah, tetapi juga mencakup aspek latensi yang memengaruhi pengalaman pengguna dalam berbagai aktivitas digital, mulai dari bermain game online, melakukan panggilan video, hingga bekerja dari jarak jauh.

Kualitas koneksi internet yang merosot dapat berdampak luas pada berbagai sektor. Mulai dari produktivitas tenaga kerja, efektivitas pembelajaran jarak jauh, hingga pertumbuhan ekonomi digital. Di era di mana konektivitas menjadi tulang punggung aktivitas sehari-hari, penurunan performa internet dapat menghambat kemajuan dan daya saing bangsa di kancah internasional.

Pemerintah dan para pemangku kepentingan di industri telekomunikasi diharapkan dapat meninjau kembali strategi yang telah dijalankan. Evaluasi mendalam terhadap faktor-faktor penyebab penurunan ini, seperti kendala infrastruktur, distribusi jaringan yang belum merata, atau tantangan dalam investasi teknologi, perlu dilakukan. Peningkatan kualitas layanan internet menjadi kunci untuk memastikan Indonesia tidak semakin tertinggal dalam revolusi digital global.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All