Panitia penyelenggara event lari di Canggu, Bali, angkat bicara menanggapi dugaan diskriminasi yang dialami oleh warga negara Indonesia (WNI) saat acara berlangsung. Pihak panitia menyatakan bantahan atas tuduhan tersebut dan menegaskan komitmen untuk melakukan evaluasi serta perbaikan demi penyelenggaraan acara di masa mendatang.
Menyikapi keluhan yang beredar, panitia memutuskan untuk menghentikan sementara jalannya acara. Keputusan ini diambil sebagai bentuk respons cepat terhadap masukan dan kekhawatiran peserta, khususnya WNI. “Kami menghentikan acara untuk sementara waktu sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap seluruh peserta,” ujar perwakilan panitia dalam sebuah pernyataan resmi.
Lebih lanjut, panitia menekankan bahwa mereka tidak memiliki niat untuk mendiskriminasi siapa pun. Mereka menyatakan bahwa tujuan utama penyelenggaraan event ini adalah untuk menyatukan komunitas pelari, baik lokal maupun internasional, dalam sebuah kegiatan yang positif dan inklusif. “Tujuan kami adalah untuk menciptakan pengalaman yang positif bagi semua peserta, terlepas dari kewarganegaraan mereka,” tegasnya.
Menanggapi isu yang berkembang, panitia berjanji akan melakukan investigasi mendalam untuk memahami akar permasalahan. Mereka juga berkomitmen untuk meninjau kembali seluruh aspek penyelenggaraan, mulai dari pendaftaran, alur acara, hingga interaksi dengan peserta. “Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh proses penyelenggaraan acara ini, termasuk mendengarkan masukan dari semua pihak yang terlibat,” jelas perwakilan panitia.
Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah perlakuan terhadap WNI dalam hal ketersediaan fasilitas dan akses. Panitia menyatakan akan meninjau kembali bagaimana fasilitas tersebut didistribusikan dan diakses oleh seluruh peserta. “Kami sangat menghargai masukan yang diberikan dan akan memastikan bahwa di acara selanjutnya, setiap peserta mendapatkan perlakuan yang adil dan setara,” tambahnya.
Pihak panitia juga mengundang peserta yang merasa dirugikan atau memiliki keluhan untuk dapat menyampaikan langsung kepada mereka. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk membangun kembali kepercayaan dan memastikan bahwa setiap suara didengar. “Kami terbuka untuk dialog dan siap menerima kritik konstruktif demi perbaikan di masa depan,” pungkas perwakilan panitia.
