Jalan Terjal Timnas Skotlandia di Piala Dunia: Matematika, Statistik, dan Harapan di Balik Kekalahan dari Maroko

Danu Ilham

Kekalahan tipis 0-1 dari Maroko di Boston Stadium pada Jumat lalu membuat perjalanan Tim Nasional Skotlandia di Piala Dunia kini memasuki fase "seni mental gymnastics". Tanpa euforia pesta, konvoi, atau hiruk-pikuk lapangan hijau layaknya negara lain, para pendukung Skotlandia kini harus berkutat dengan perhitungan matematis dan statistik rumit demi menggapai asa lolos dari fase grup. Rute paling realistis bagi pasukan Steve Clarke adalah menempati salah satu dari delapan posisi tim peringkat ketiga terbaik. Namun, untuk memprediksi hasil yang dibutuhkan, dibutuhkan lebih dari sekadar pemahaman sepak bola, melainkan juga keahlian dalam matematika, statistik, bahkan clairvoyance.

Menghadapi Brasil di laga pamungkas grup pada Rabu mendatang menjadi skenario paling ideal sekaligus paling menantang. Kemenangan atas tim berperingkat keenam dunia ini akan mengantarkan Skotlandia mengoleksi enam poin, sebuah angka yang hampir pasti mengamankan posisi kedua grup. Meski sempat terseok-seok melawan Haiti, Brasil menunjukkan kualitasnya di pertandingan pembuka melawan Maroko. Namun, statistik pertemuan kedua tim tidak berpihak pada Skotlandia. Dari sepuluh pertandingan sebelumnya, Brasil mendominasi dengan delapan kemenangan, sementara Skotlandia hanya mampu meraih dua hasil imbang, yang terakhir terjadi pada tahun 1974. Kendati demikian, penampilan impresif di paruh kedua melawan Maroko dan sejumlah peluang yang tercipta, memberikan secercah harapan bagi "Tartan Army" sebelum bertolak ke Miami.

Di tengah ketidakpastian tersebut, para pakar statistik dari Opta memproyeksikan peluang Skotlandia untuk lolos dari fase grup mencapai 73,5%. Angka ini terdengar meyakinkan, mengingat delapan tim peringkat ketiga terbaik akan melaju ke babak gugur. Dengan empat poin, Skotlandia seharusnya dapat mengamankan tiket ke babak 32 besar. Namun, permasalahan muncul jika Skotlandia menderita kekalahan telak dari Brasil. Saat ini, Skotlandia mengoleksi tiga poin dengan selisih gol nol. Kekalahan apapun dari Brasil diprediksi akan membuat selisih gol mereka merosot setidaknya menjadi minus satu.

Perbandingan dengan grup lain yang telah menyelesaikan dua pertandingan menunjukkan bahwa tim peringkat ketiga terbaik saat ini hanya mengoleksi satu poin. Namun, kedua grup tersebut masih memiliki pertandingan melawan tim juru kunci, yang berpotensi menambah poin mereka hingga empat. Hal ini menyulitkan prediksi pasti. Secara historis, selisih gol minus dua dengan tiga poin terkadang cukup untuk lolos. Namun, format Piala Dunia yang semakin meluas dan peningkatan kualitas tim-tim peserta membuat prediksi semakin kompleks. Intinya, Skotlandia berharap tim-tim unggulan di setiap grup tidak meraih kemenangan yang terlalu meyakinkan, namun juga tidak kalah telak dari tim peringkat ketiga.

Mencari "pemain kunci" untuk lolos ke babak 32 besar membawa kita pada spekulasi yang cukup absurd. Saat ini, Skotlandia memang memimpin klasemen tim peringkat ketiga dengan tiga poin, namun itu karena banyak tim yang baru memainkan satu atau dua pertandingan. Ekuador, Panama, Senegal, Yordania, dan Turki masih tertahan di dasar klasemen dengan nol poin, dengan Ekuador yang saat ini "menyelip" di posisi ketiga. Grup-grup ini berpotensi menghasilkan tim peringkat ketiga dengan poin rendah.

Oleh karena itu, Skotlandia sangat berharap rival lama mereka, Inggris, dapat memberikan "bantuan" dengan mengalahkan Panama dan Ghana secara meyakinkan. Hal serupa juga diharapkan dari Argentina asuhan Lionel Messi dan Austria yang dapat membantai Yordania. Bahkan, jika tim Amerika Serikat dapat memberikan kemenangan atas Turki, hal itu akan sangat membantu. Meskipun situasi ini dapat berubah, berikut gambaran umum per grup yang mungkin menentukan nasib Skotlandia.

Situasi semakin rumit ketika membicarakan potensi lawan Skotlandia di babak gugur. Jika Skotlandia berhasil menjuarai Grup C, mereka akan terbang ke Houston, Texas, untuk menghadapi runner-up dari grup yang dihuni Belanda, Swedia, dan Jepang. Namun, skenario ini sangat kecil kemungkinannya terjadi. Jika mereka menempati posisi kedua, tim asuhan Clarke akan berhadapan dengan juara dari grup yang sama di Monterrey, Meksiko.

Skenario yang paling mungkin terjadi adalah Skotlandia finis di posisi ketiga dan tetap lolos. Dalam kondisi ini, ada 495 kemungkinan berbeda yang akan menentukan lokasi pertandingan mereka selanjutnya. Kemungkinan terbesar adalah mereka akan kembali bermain di Boston Stadium pada Senin, 29 Juni (pukul 21:30 BST), menghadapi juara Grup E yang kemungkinan besar adalah Jerman. Rute kedua akan membawa mereka ke Mexico City pada Rabu, 1 Juli (pukul 02:00 BST), untuk menghadapi Meksiko. Rute ketiga, yang paling kecil kemungkinannya, adalah menghadapi juara Grup I di New York/New Jersey Stadium pada Selasa, 30 Juni (pukul 20:00 BST), di mana Prancis dan Norwegia sama-sama memenangkan pertandingan pembuka mereka. Tentu saja, semua perhitungan ini belum termasuk tugas terberat: meraih hasil positif melawan Brasil di pertandingan terakhir.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All