FBI Ungkap Ancaman Siber Baru: Kelompok ‘764’ Incar Anak dengan Ideologi Sesat

Emanuel

Sebuah peringatan keras dikeluarkan oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat mengenai munculnya kelompok teroris baru yang beroperasi di ranah digital. Kelompok yang menamakan diri ‘764’ ini dilaporkan menganut ideologi ekstrem yang menggabungkan satanisme dan neo-Nazisme, serta memiliki target utama yang sangat mengkhawatirkan: anak-anak. Modus operandi mereka yang canggih melalui interaksi daring, seperti media sosial dan game online, menjadi ancaman nyata bagi keamanan anak-anak di seluruh dunia.

Penegak hukum di Mississippi menjadi salah satu pihak pertama yang menerima briefing mendalam dari FBI mengenai ancaman kelompok 764. Melalui pertemuan puncak penegak hukum tingkat negara bagian di dekat Jackson pada akhir Mei lalu, detail mengenai sepak terjang kelompok ini dibeberkan. Kantor Polisi Marshall County dan lembaga penegak hukum lainnya di Mississippi telah mengeluarkan peringatan publik melalui media sosial untuk meningkatkan kewaspadaan orang tua.

Meskipun kepolisian setempat belum melaporkan kasus spesifik yang ditangani terkait aksi 764 di wilayah mereka, peringatan ini didasarkan pada laporan kasus yang sudah ditangani oleh beberapa negara bagian lain. FBI mengindikasikan bahwa kelompok 764 secara khusus menargetkan anak-anak berusia sekitar sembilan tahun. Mereka menggunakan berbagai identitas palsu untuk membangun kepercayaan dan hubungan pertemanan dengan anak-anak dan remaja di dunia maya.

Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan, anggota 764 akan mengeksploitasi hubungan tersebut untuk memaksa korban melakukan tindakan yang mengerikan. Hal ini termasuk membuat pornografi anak, menyakiti hewan peliharaan, hingga melakukan kekerasan terhadap orang-orang terdekat. Video dari tindakan-tindakan tersebut kemudian dilaporkan digunakan sebagai alat pemerasan dan dibagikan di antara para anggota kelompok.

"Mereka meminta korban untuk menyakiti diri sendiri, menyakiti keluarga mereka, atau menyakiti masyarakat," ungkap Letnan Kolonel David Cook dari Kantor Polisi Marshall County. Ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas daring anak-anak mereka untuk mencegah mereka jatuh menjadi korban. "Ini mengerikan. Ini benar-benar mengerikan. Sebagai orang tua, kita mencoba melindungi anak-anak kita dari bahaya dunia," tambahnya, seraya mengingatkan agar selalu waspada terhadap platform media sosial maupun dark web yang kerap menjadi sarana bagi kelompok seperti 764 beroperasi.

Ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok 764 ini semakin nyata dengan adanya penangkapan terhadap beberapa anggotanya. Departemen Kehakiman AS (DoJ) melaporkan penangkapan dua pemimpin kelompok teroris 764 pada bulan Mei lalu. Perkembangan terbaru, sebagaimana dilaporkan situs resmi DoJ pada 15 Juni 2026, adalah penangkapan seorang anggota baru bernama Shawn Krishendat Premsook, 26 tahun, dari Clermont, Florida.

Premsook telah mengaku bersalah atas dua dakwaan distribusi pornografi anak dan dua dakwaan kepemilikan pornografi anak. Berdasarkan fakta yang diungkapkan oleh pemerintah, Premsook telah menjadi anggota 764 dan kelompok Ekstremis Kekerasan Nihilistik (NVE) lainnya selama kurang lebih dua tahun. Selama periode tersebut, ia terlibat dalam pemerasan terhadap anak di bawah umur untuk melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Dalam beberapa kasus, ia bahkan memaksa seorang gadis di bawah umur untuk melukai dirinya sendiri dan menggunakan darahnya untuk menulis pesan dengan nama samaran daring.

Lebih lanjut, Premsook juga terbukti mengumpulkan dan mendistribusikan gambar serta video kekerasan dan pornografi anak yang menjadi korban anggota 764. Kelompok 764 dan kelompok terkait digambarkan sebagai NVE yang terlibat dalam berbagai tindakan kriminal di Amerika Serikat dan memiliki keterkaitan dengan ekstremis lain di luar negeri. Tujuan utama dari jaringan 764 ini adalah untuk menciptakan keresahan sosial dan meruntuhkan tatanan dunia yang ada, termasuk pemerintahan Amerika Serikat. Para anggota 764 bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama menghancurkan masyarakat beradab melalui korupsi dan eksploitasi populasi rentan, khususnya anak di bawah umur.

Atas perbuatannya, Shawn Krishendat Premsook menghadapi konsekuensi hukum yang berat. Ia terancam hukuman minimum lima tahun penjara dan hukuman maksimum 20 tahun penjara untuk setiap pelanggaran distribusi pornografi anak. Sementara itu, untuk pelanggaran kepemilikan pornografi anak, ia terancam hukuman maksimum 10 tahun penjara untuk setiap dakwaan. Kasus ini menjadi bukti nyata betapa seriusnya ancaman terorisme siber yang menargetkan generasi muda dan bagaimana aparat penegak hukum terus berupaya memberantasnya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All