Sejumlah warga di pesisir timur Australia kini menghadapi ancaman kesehatan yang tak terduga: alergi terhadap daging mamalia. Fenomena yang dikenal sebagai ‘mammalian meat allergy’ ini ternyata dipicu oleh gigitan kutu, sebuah fakta yang mengejutkan banyak pihak dan menimbulkan kekhawatiran baru.
Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada tahun 2007, dan sejak itu kasusnya terus bertambah, terutama di wilayah New South Wales dan Queensland. Dr. Sheryl van Nunen, seorang ahli alergi terkemuka di Royal North Shore Hospital, Sydney, menjadi salah satu pionir dalam penelitian mengenai sindrom ini. Ia mengungkapkan keprihatinannya, “Seandainya saja orang tahu apa yang bisa dilakukan oleh seekor kutu.” Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai potensi bahaya gigitan kutu masih sangat minim.
Alergi ini bukanlah reaksi instan seperti alergi makanan pada umumnya. Gejalanya cenderung muncul beberapa jam setelah mengonsumsi daging merah, seperti daging sapi, domba, atau babi. Gejala yang timbul bisa beragam, mulai dari gatal-gatal, ruam (urtikaria), pembengkakan pada bibir, lidah, atau tenggorokan, hingga reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa. Anafilaksis merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera.
Mekanisme di balik alergi ini cukup unik. Gigitan kutu, khususnya dari spesies Ixodes holocyclus (tick Australia), diketahui dapat menyuntikkan senyawa ke dalam tubuh manusia yang memicu respons kekebalan. Senyawa ini, yang disebut alpha-gal, secara alami terdapat dalam daging mamalia tetapi tidak ada pada unggas atau ikan. Tubuh yang terpapar alpha-gal melalui gigitan kutu kemudian mengembangkan antibodi terhadap senyawa tersebut. Ketika seseorang mengonsumsi daging mamalia setelah terpapar, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi, menyebabkan gejala alergi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Internal Medicine Journal pada tahun 2018, yang melibatkan 251 pasien dari New South Wales dan Queensland, menunjukkan prevalensi yang signifikan dari alergi ini. Sebanyak 70% pasien yang didiagnosis dengan alergi daging mamalia ternyata memiliki riwayat gigitan kutu. Angka ini menguatkan dugaan adanya kaitan kuat antara gigitan kutu dan alergi yang muncul.
Para ahli terus berupaya meningkatkan kesadaran publik mengenai risiko ini. Pencegahan gigitan kutu menjadi kunci utama. Menggunakan losion antinyamuk yang mengandung DEET, mengenakan pakaian tertutup saat berada di area berumput atau hutan, serta memeriksa tubuh setelah beraktivitas di luar ruangan adalah langkah-langkah penting yang perlu dilakukan. Bagi mereka yang telah didiagnosis alergi, menghindari konsumsi daging mamalia dan selalu membawa EpiPen (alat suntik epinefrin) adalah tindakan pencegahan yang krusial.
