Aturan jeda hidrasi atau hydration break yang pertama kali diterapkan di Piala Dunia 2026 dipastikan akan mendapatkan peninjauan dari FIFA. Arsene Wenger, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, mengakui bahwa inovasi ini belum mendapatkan sambutan positif dari berbagai pihak dan akan dievaluasi dampaknya pasca turnamen akbar tersebut.
Wenger menyatakan, “Kami tahu bahwa jeda hidrasi ini tidak populer.” Pernyataan ini disampaikan olehnya setelah melihat respons dan dinamika yang terjadi selama penerapan aturan tersebut. FIFA, sebagai badan pengatur sepak bola dunia, berkomitmen untuk terus mengevaluasi setiap kebijakan demi kemajuan olahraga ini, termasuk efektivitas dan penerimaan dari jeda hidrasi.
Jeda hidrasi diperkenalkan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi cuaca ekstrem yang mungkin terjadi selama Piala Dunia 2026. Tujuannya adalah untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pemain dengan memberikan kesempatan tambahan untuk minum dan memulihkan diri. Namun, implementasinya ternyata memicu perdebatan dan kritik.
Sebelumnya, Wenger juga sempat menjelaskan alasan di balik pengenalan jeda hidrasi. Ia berujar, “Kami harus memikirkan pemain di lapangan. Ini adalah tentang kesehatan para pemain.” Argumen ini menekankan prioritas FIFA terhadap kesejahteraan atlet, terutama mengingat intensitas pertandingan di level Piala Dunia.
Meskipun demikian, Wenger menegaskan bahwa FIFA akan melakukan evaluasi menyeluruh. “Kami akan meninjaunya setelah turnamen,” ungkapnya. Proses peninjauan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sejauh mana jeda hidrasi ini memberikan manfaat yang diharapkan, sekaligus mengumpulkan masukan untuk keputusan selanjutnya. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi FIFA dalam menentukan apakah aturan tersebut akan dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihapuskan di masa mendatang.
