Orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi buah hati. Namun, terkadang rasa sayang yang berlebihan justru tanpa disadari menciptakan dampak negatif.
Beberapa pola asuh yang terlihat penuh kasih sayang ini ternyata dapat menghambat perkembangan kemandirian anak.
Ahli tumbuh kembang anak, dr. Aisyah Putri, Sp.A, mengingatkan pentingnya mengenali kesalahan umum yang kerap dilakukan para orang tua.
Menurut dr. Aisyah, ada tiga pola asuh yang sering disalahartikan sebagai bentuk kasih sayang namun berujung pada anak yang sulit mandiri.
Pertama adalah pola asuh yang terlalu protektif. Orang tua selalu berusaha melindungi anak dari segala potensi bahaya atau kesulitan.
Hal ini membuat anak tidak pernah belajar menghadapi tantangan secara mandiri. Mereka menjadi terbiasa bergantung pada orang tua.
Kedua adalah pola asuh yang serba menyiapkan atau melakukan segalanya untuk anak. Mulai dari menyiapkan bekal, merapikan mainan, hingga mengerjakan tugas sekolah.
Ketika semua kebutuhan anak dipenuhi tanpa usaha dari dirinya, anak tidak akan pernah merasakan pentingnya berusaha dan bertanggung jawab.
Pola asuh ketiga yang perlu diwaspadai adalah memberikan pujian berlebihan tanpa substansi. Terlalu sering memuji anak untuk hal-hal kecil bisa membuat mereka kehilangan motivasi intrinsik.
Anak menjadi terbiasa mencari validasi dari luar dan enggan mencoba hal baru yang berisiko gagal.
Mengutip dari jurnal studi perkembangan anak yang dirilis pada Januari 2024, kemandirian merupakan salah satu pondasi penting bagi kesehatan mental anak.
Anak yang mandiri cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi.
Mereka juga lebih mampu mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain.
Oleh karena itu, orang tua perlu bijak dalam menyalurkan kasih sayang.
Memberikan kesempatan anak untuk mencoba dan belajar dari kesalahan adalah kunci utama.
Hal ini bukan berarti mengurangi kasih sayang, melainkan menyalurkannya dalam bentuk dukungan dan bimbingan yang memberdayakan.
Mulailah dari hal-hal kecil, seperti membiarkan anak merapikan mainannya sendiri atau memilih pakaiannya.
Peran orang tua adalah sebagai fasilitator, bukan pelaksana segala urusan anak.
Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi individu yang tangguh dan mandiri di masa depan.
