Prancis terus menunjukkan dominasinya di panggung Piala Dunia. Tim berjuluk Ayam Jantan ini kembali membuktikan kelasnya dengan menumbangkan Maroko di babak perempat final.
Kemenangan 2-0 atas Maroko pada Kamis (tanggal yang disebutkan tidak spesifik dalam referensi, namun konteksnya adalah perempat final) ini menegaskan status Prancis sebagai salah satu favorit juara. Meskipun sempat mendapatkan perlawanan sengit dari Paraguay di babak 16 besar, anak asuh Didier Deschamps ini berhasil kembali ke jalur kemenangan.
Performa impresif Prancis ini memunculkan pertanyaan di kalangan pengamat sepak bola. Sejumlah pihak bahkan mulai menjuluki tim ini sebagai ‘Les Inévitables’ atau yang Tak Terhindarkan. Prediksi ini muncul setelah melihat betapa solidnya permainan mereka.
Seorang pembaca bernama Peter Oh berkomentar, “Saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah tim ini akan tercatat dalam sejarah sebagai ‘Les Inévitables’?” Komentar ini mencerminkan pandangan banyak orang yang melihat Prancis begitu sulit ditaklukkan.
Kekuatan Prancis tidak hanya terlihat di lini serang. Kedalaman skuad mereka juga patut diperhitungkan. Hal ini terlihat dari aktivitas transfer yang dilakukan klub-klub, seperti yang disinggung oleh James Vortkamp-Tong. Ia menyebutkan, “Dengan banyaknya rekrutan (Cerci, Stanway, Reuteler) musim panas ini, saya tidak menduga akan ada lagi. Tapi kemudian Arsenal mengikuti jejak Hollywood dan mendapatkan Ona Batlle setelah yang lain!”
Sementara itu, perdebatan mengenai representasi tim nasional juga muncul. James Driskell mengingatkan agar tidak menyamakan tim Amerika Serikat dengan politisi tertentu. “Tolong jangan merujuk AS sebagai ‘anak buah Trump’ (Football Daily kemarin). Sepemahaman saya, mereka adalah olahragawan yang baik, disukai, dan tim yang patut dibanggakan, sangat berbeda dengan orang yang dimaksud,” tulisnya.
Di sisi lain, ada pula cerita menarik dari ruang ganti tim Inggris. Mike Wilner membayangkan para pemain Inggris, yang rata-rata lahir sekitar tahun 1998, menyanyikan lagu klasik Bonnie Tyler. “Mereka menyanyikan lagu klasiknya di ruang ganti dan ikut bernyanyi. Hingga mereka mencapai lirik kunci, ‘Every now and then, I fall apart’. Semoga berhasil hari Sabtu, kawan!” katanya, menyindir potensi rapuhnya tim yang terkadang muncul.
Kemenangan Prancis ini tentu menjadi sorotan utama. Pertanyaan besarnya kini adalah, siapa tim yang mampu menghentikan laju impresif Kylian Mbappé dan kawan-kawan di sisa turnamen? Jalan terjal tampaknya menanti para rival Prancis yang tersisa.
