Friday, 10 July 2026
BREAKING
BERITA

Beban Impor Minyak Mentah Ganggu Surplus Neraca Dagang, Kemenkeu Ungkap Solusinya

Oleh Emanuel July 10, 2026 5 hours lalu 0 komentar

JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia kembali menunjukkan tren positif dengan catatan surplus kumulatif. Namun, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi batu sandungan signifikan yang menggerus sebagian besar keuntungan tersebut.

Meskipun demikian, surplus neraca perdagangan secara akumulatif tetap terjaga hingga periode tertentu. Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam sebuah keterangan resmi di Jakarta pada Senin (10/6/2024).

Menurut Sri Mulyani, kenaikan harga minyak mentah global menjadi kontributor utama defisit neraca perdagangan pada periode tersebut. Impor minyak mentah yang membengkak akibat harga yang terus merangkak naik membebani devisa negara.

“Kita memang melihat ada defisit pada neraca migas. Ini terutama disebabkan oleh tingginya harga minyak mentah dunia yang harus kita impor,” ujar Sri Mulyani.

Ia merinci, lonjakan harga komoditas energi global ini memberikan tekanan yang cukup besar pada pos impor migas. Kenaikan harga minyak mentah tidak hanya berdampak pada biaya impor, tetapi juga pada biaya bahan bakar minyak (BBM) yang disubsidi oleh pemerintah.

Meskipun demikian, Sri Mulyani menekankan bahwa secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia masih mampu mencatatkan surplus. Surplus ini ditopang oleh kinerja positif dari sektor non-migas yang terus menunjukkan ketahanan.

“Namun, secara keseluruhan, neraca perdagangan kita masih mencatat surplus. Ini menunjukkan bahwa sektor-sektor lain di luar migas masih memberikan kontribusi yang kuat,” jelasnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah terus berupaya mencari solusi. Salah satu strategi utamanya adalah mendorong peningkatan produksi dalam negeri, baik untuk minyak mentah maupun produk turunannya. Selain itu, diversifikasi sumber energi juga menjadi prioritas.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga komoditas global dan dampaknya terhadap perekonomian nasional. Upaya stabilisasi harga dan penguatan daya saing produk ekspor non-migas menjadi fokus berkelanjutan.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa volatilitas harga minyak mentah global menjadi tantangan struktural yang perlu diatasi dalam jangka panjang. Peningkatan kapasitas kilang dalam negeri dan pengembangan energi terbarukan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor migas.

Kondisi ini juga menyoroti pentingnya diversifikasi ekspor dan penguatan basis industri manufaktur untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah gejolak ekonomi global.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait