Netanyahu Bantah Retaknya Hubungan dengan Trump, Sebut ‘Baik-Baik Saja’

Heni Maulidya

Jakarta, CNN Indonesia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu angkat bicara mengenai isu keretakan hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menegaskan bahwa hubungan keduanya masih dalam kondisi "baik-baik saja". Pernyataan ini dilontarkan di tengah spekulasi perbedaan pendekatan terkait isu Iran dan serangan Israel di Lebanon.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Senin (6/7), Netanyahu melontarkan pujian kepada Amerika Serikat dan Trump. Ia secara tegas membantah laporan yang menyebut adanya keretakan hubungan di antara mereka. Isu tersebut mencuat terkait perbedaan pandangan mengenai gencatan senjata dengan Iran dan serangan Israel di Lebanon.

"Amerika telah menjadi kekuatan besar bagi kebaikan," ujar Netanyahu. Ia menambahkan, tanpa Amerika, demokrasi dan kebebasan di dunia tidak akan eksis. Netanyahu bahkan menyatakan bahwa pandangannya dengan Trump sangat sejalan dalam hampir segala hal.

Meskipun mengakui kemungkinan adanya perbedaan pendapat antara Amerika Serikat dan Israel, Netanyahu menekankan bahwa kedua negara tetap merupakan "sekutu teladan". Ia menegaskan, "Hubungan saya dengan presiden baik-baik saja, dan kami memiliki cara untuk menyelesaikan perbedaan sebagai sekutu yang saling menghormati."

Netanyahu juga mengonfirmasi rencana kunjungan ke Amerika Serikat dalam waktu dekat, meskipun belum ada tanggal pasti yang ditetapkan. Pernyataannya ini muncul di tengah kritik sejumlah anggota kabinet Israel terhadap nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss. MoU tersebut menyerukan gencatan senjata regional, termasuk di Lebanon.

Kritikan pejabat Israel terhadap MoU AS-Iran bahkan menarik perhatian Wakil Presiden AS JD Vance. Vance secara blak-blakan mengingatkan Israel untuk tidak terus mengkritik langkah AS terhadap Iran. Ia juga berpesan agar Israel tidak menjauhkan diri dari "satu-satunya sekutu kuat" yang dimiliki. Vance meminta kabinet Netanyahu untuk "bangun dan menghadapi kenyataan".

"Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang saat ini bersimpati kepada Negara Israel," tegas Vance kepada wartawan. "Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih saya miliki."

Sebelumnya, Presiden Trump juga sempat mengungkapkan frustrasinya terhadap Netanyahu. Trump menilai Netanyahu mempersulit perundingan AS-Iran karena serangan Israel ke Lebanon yang menargetkan milisi Hizbullah. Gencatan senjata Israel dan Hizbullah di Lebanon merupakan salah satu syarat berlanjutnya perundingan AS-Iran. Israel sendiri menolak menarik pasukannya, dengan alasan berhak membombardir Lebanon kapan saja jika merasa terancam. Serangan Israel di Lebanon selatan pada Senin (6/7) dilaporkan menewaskan empat warga sipil, termasuk seorang guru.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All